Internasional

Iran Tegaskan Hak Kendali Pelayaran di Selat Hormuz Pasca Insiden Kapal Dekat Oman

Iran Tegaskan Hak Kendali Pelayaran di Selat Hormuz Pasca Insiden Kapal Dekat Oman

Ringkasan

  • Iran menegaskan hak kendali atas Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan pasca serangan terhadap kapal kargo dekat perairan Oman.

Pemerintah Iran kembali menegaskan haknya untuk mengendalikan arus pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (26/6). Pernyataan ini muncul sebagai respon terhadap ketegangan regional yang meningkat, menyusul serangan terhadap sebuah kapal di dekat perairan Oman yang mengancam stabilitas perjanjian gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat.

Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat dan enam negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam klaim Iran terkait wewenang untuk memungut biaya tol bagi kapal-kapal yang melintas di selat strategis tersebut. Washington dan negara-negara GCC menyebut langkah Iran sebagai tindakan yang provokatif dan tidak bertanggung jawab, serta menuntut kebebasan navigasi tanpa syarat.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui akun media sosialnya menyatakan bahwa jaminan keamanan di Selat Hormuz tidak bisa dicapai melalui pengaturan yang ambigu atau keputusan sepihak yang mengabaikan peran Iran sebagai negara pesisir. Menurut Iran, setiap upaya untuk meminggirkan peran mereka dalam pengelolaan jalur air ini justru akan merusak stabilitas kawasan.

Di sisi lain, insiden keamanan melibatkan kapal Ever Lovely milik perusahaan Taiwan, Evergreen Marine, yang dilaporkan terkena hantaman objek tak dikenal di dekat perairan Oman. Meski tidak ada korban jiwa dan kapal dapat melanjutkan perjalanan, dua pejabat AS mengklaim bahwa Iran bertanggung jawab atas penembakan tersebut, sebuah tuduhan yang menambah lapisan ketidakpastian dalam dinamika geopolitik di jalur perdagangan energi vital dunia.

Sementara itu, harga minyak dunia sempat mengalami fluktuasi merespons ketidakpastian ini. Di tengah ketegangan, Saudi Aramco mengumumkan dimulainya kembali pemuatan minyak mentah di terminal Ras Tanura setelah sempat terhenti selama empat bulan. Langkah ini menjadi indikator penting bagi pasar energi global yang sangat bergantung pada kelancaran arus logistik di kawasan Teluk.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa keberadaan militer AS di kawasan tersebut justru menjadi sumber utama ketidakamanan. Teheran bersikeras bahwa pengelolaan Selat Hormuz seharusnya dijalankan secara eksklusif oleh Iran dan Oman sesuai dengan ketentuan perjanjian interim yang telah disepakati sebelumnya, guna menghindari konflik lebih lanjut di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang dapat berdampak langsung pada inflasi dan biaya logistik di Indonesia. Selain itu, ketegangan ini menyoroti kerentanan rantai pasok energi global yang mengharuskan Indonesia untuk memperkuat cadangan strategis dan diversifikasi sumber energi guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit