Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal komersial agar hanya menggunakan rute pelayaran melalui Selat Hormuz yang telah disetujui secara resmi oleh pihak otoritas di Teheran. Langkah ini kembali memicu ketegangan di tengah proses negosiasi yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran mengenai tata kelola jalur air strategis tersebut.
Peringatan tersebut muncul setelah Oman mengumumkan pembukaan rute transit pelayaran baru melalui selat tersebut pada hari Rabu. Oman menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO) seiring dengan mulai pulihnya lalu lintas maritim setelah sempat mengalami gangguan selama berminggu-minggu.
Perselisihan ini merupakan salah satu isu krusial yang belum terselesaikan pasca penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran pekan lalu. Perjanjian tersebut secara substansial telah menghentikan permusuhan dalam perang empat bulan AS-Israel terhadap Iran dan memulai proses negosiasi 60 hari yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih luas.
MoU yang mencakup pembukaan kembali selat tersebut menyusul ketegangan berbulan-bulan di mana Iran sempat menutup akses pelayaran, yang kemudian dibalas oleh AS dengan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Meski kedua pihak telah menyatakan selat terbuka, keraguan tetap muncul mengenai apakah Iran akan menuntut kendali lebih besar atas pergerakan kapal di masa depan.
Ketidakpastian juga menyelimuti potensi penerapan biaya transit atau biaya layanan yang mungkin dibebankan Iran kepada kapal-kapal yang menggunakan selat tersebut setelah periode negosiasi berakhir. Perdebatan mengenai kendali jalur air ini dikhawatirkan dapat menggagalkan upaya pencapaian kesepakatan permanen antara kedua negara adidaya tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur air paling strategis di dunia, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melintas setiap harinya. Dengan lebar hanya 33 hingga 50 kilometer, selat ini menghubungkan Teluk dengan Laut Arab dan menjadi urat nadi perdagangan energi serta pupuk global yang sangat vital bagi stabilitas ekonomi internasional.