Internasional

Istri Tahan Kaki Suami Nyaris Terhisap Jendela Pesawat Ryanair di Udara

Ringkasan

  • Ljubisa Karović (61) nyaris terhisap jendela kabin Ryanair saat terbang Thessaloniki-Memmingen Jumat lalu akibat pecahnya kaca dari serpihan mesin.

Jumat lalu, penerbangan Ryanair dari Thessaloniki, Yunani, menuju Memmingen, Jerman, berubah menjadi mimpi buruk. Ljubisa Karović, pria berusia 61 tahun, nyaris terhisap keluar jendela kabin setelah bagian tubuhnya hingga dada berada di luar pesawat selama dua menit. Istrinya, Svetlana Grković, yang duduk di sebelahnya, langsung memegang kedua kaki suaminya untuk mencegahnya jatuh.

Peristiwa tersebut terjadi ketika pesawat yang dioperasikan oleh anak usaha Ryanair, Malta Air, berada di ruang udara Makedonia Utara. Menurut penuturan Svetlana kepada stasiun penyiaran publik Yunani ERT, suaminya berada di luar hingga dada dan sempat pingsan tiga kali karena kekurangan oksigen serta syok. Tiga penumpang, termasuk seorang wanita di sebelah Karović yang memegang tangannya, bekerja sama menarik korban kembali ke dalam.

Seorang penasihat teknis yang ditunjuk keluarga menyimpulkan bahwa kegagalan pada mesin kanan pesawat menciptakan serpihan yang menghantam dan memecahkan jendela kabin, memicu dekompresi cepat. Penilaian itu belum dikonfirmasi penyelidik resmi, namun sejumlah penumpang melaporkan suara ledakan keras sebelum kabin kehilangan tekanan.

Pesawat yang terlibat merupakan Boeing 737-800 buatan Amerika Serikat dengan perkiraan usia 18 tahun. Usia pesawat yang relatif tua memunculkan pertanyaan tentang standar pemeliharaan armada di maskapai berbiaya rendah. Ryanair dan Malta Air dikenal menekan biaya operasional, meski aturan keselamatan Eropa mewajibkan inspeksi berkala ketat.

Insiden serupa pernah terjadi dalam sejarah penerbangan, seperti kasus Aloha Airlines 243 pada 1988 di Hawaii di mana dekompresi eksplosif merobek atap pesawat. Perbedaannya, pada peristiwa Ryanair ini jendela pecah akibat serpihan mesin bukan kerusakan struktural pelat bodi. Hal itu mengarahkan perhatian pada integritas desain mesin dan perlindungan kabin dari debris.

Bagi pembaca Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan keselamatan udara di negara berkembang yang juga mengandalkan pesawat berusia tua. Maskapai lokal seperti Lion Air atau Garuda Indonesia pernah mengoperasikan 737-800 dengan usia puluhan tahun. Meski regulasi Kementerian Perhubungan mewajibkan airworthiness, kasus ini menunjukkan risiko debris mesin bisa menerobos kabin jika proteksi tidak memadai.

Dari sisi teknologi, sistem pendeteksi kegagalan mesin dan sensor dekompresi saat ini sudah canggih. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan implementasi pemeliharaan prediktif berbasis data di banyak maskapai regional. Komparasi dengan Eropa yang melibatkan FAA, EASA, dan Boeing dalam investigasi lintas negara menunjukkan pentingnya transparansi internasional yang belum sepenuhnya terjadi di dalam negeri.

Dampak langsung bagi penumpang adalah trauma psikologis. Svetlana mengaku masih gemetar tiap kali mendengar kata pesawat. Di Indonesia, layanan pendampingan psikologis pasca-insiden penerbangan belum merata. Kisah ini seharusnya mendorong maskapai domestik menyiapkan protokol krisis mental selain keselamatan fisik.

"Saya langsung bereaksi dan mencengkeram kakinya. Saya pikir: jika kami mati, kami mati bersama," ucap Svetlana kepada media Serbia Nova, menggambarkan detik-detik kritis. Ia menambahkan bahwa masker oksigen terjatuh dan kepanikan meluas, sementara koper yang diletakkan menutupi jendela justru terhisap keluar.

Penumpang lain bernama Sofia kepada Radio Thessaloniki menceritakan kondisi di dalam kabin. "Kami mengira pesawat akan jatuh. Dekompresinya ekstrem, rasanya seperti tidak bisa bernapas. Pria itu berdarah dan pingsan berkali-kali kemungkinan besar karena kekurangan oksigen," katanya. Karović kini dirawat di rumah sakit dengan luka bakar dan cedera tangan serius.

Penyelidikan resmi ditangani oleh Otoritas Investigasi Keselamatan Udara dan Kereta Api Hellenic, dengan dukungan otoritas Makedonia Utara. Karena pesawat dibuat Boeing dan insiden di ruang udara Makedonia Utara, FAA, EASA, serta Boeing turut membantu. Hasil investigasi diharapkan memperjelas apakah kegagalan mesin akibat kelelahan material atau cacat produksi.

Ke depan, maskapai berbiaya rendah mungkin akan memperketat inspeksi mesin dan memasang pelindung jendela tambahan. Bagi regulator global, temuan ini bisa memicu revisi standar desain 737-800 yang sudah mengudara sejak 1997. Sementara Karović berjuang pulih, dunia penerbangan belajar dari ordeal yang nyaris merenggut nyawanya di ketinggian.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menguji validitas sertifikasi kelayakan terbang bagi pesawat berusia di atas 15 tahun yang masih dominan di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Regulator domestik perlu mengevaluasi ulang protokol investigasi lintas negara yang selama ini jarang diterapkan secara transparan. Masyarakat luas harus menyadari bahwa biaya tiket murah sering berkorelasi dengan risiko pemeliharaan yang rentan kelalaian. Tanpa tekanan publik, maskapai lokal mungkin menunda upgrade teknologi pendeteksi kegagalan mesin dini.

Sumber Asli
Bbc
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit