Jet tempur J-16 Angkatan Udara TNI China (PLAAF) secara resmi bertarung simulasi melawan jet Rafale buatan Prancis yang dioperasikan Angkatan Udara Mesir dalam latihan gabungan "Eagles of Civilization" yang berlangsung di Mesir sejak akhir Agustus 2026. Latihan ini menjadi kali pertama J-16 dikerahkan ke luar benua Asia serta pertemuan pertamanya dengan pesawat tempur buatan Barat dalam skenario tempur udara nyata.
Sebanyak delapan unit J-16 didukung oleh pesawat tanker YU-20, pesawat peringatan dini KJ-500, dan helikopter Z-20 menempuh perjalanan 6.000 kilometer melintasi empat negara dalam sembilan jam penerbangan. Kapasitas proyeksi kekuatan jarak jauh ini menjadi salah satu tujuan utama latihan, sebagaimana dilaporkan media negara China CCTV. Pasukan China hanya membutuhkan satu hari untuk menyelesaikan persiapan logistik dan teknis sebelum memulai seri latihan tempur.
Pada hari pertama, pilot J-16 menjalankan simulasi dogfight jarak dekat dan menengah dalam format satu lawan satu serta dua lawan dua melawan Rafale Mesir. Pilot China, Ning Yiming, mengakui latihan ini memberikan platform berharga untuk menyempurnakan kemampuan tempur timnya. Sisi Mesir sendiri mengerahkan skadron Rafale yang telah menjadi tulang punggung kekuatan udaranya sejak pengadaan pertama pada 2015.
Latihan ini berlangsung di latar belakang ketegangan militer yang terus memanas di Timur Tengah akibat konfrontasi terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Mesir, sebagai aktor regional kunci, mempertahankan netralitas hati-hati — pekan lalu diplomat utamanya bahkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran untuk mendorong revitalisasi diplomasi Washington-Tehran. Sementara itu, Presiden Xi Jinping baru-baru ini mendesak gencatan senjata berkelanjutan saat bertemu Raja Yordania Abdullah II, menegaskan posisi Beijing sebagai pemrakarsa damai.
Bagi analis pertahanan, pertemuan J-16 versus Rafale menawarkan jendela langka untuk menilai kinerja relatif jet generasi keempat China di hadapan standar NATO. J-16, pengembangan China berbasis Su-27 Rusia, dikenal sebagai platform multi-peran bermesin ganda dengan avionik modern, radar AESA, dan kemampuan senjata jarak jauh — meski tidak memiliki kemampuan siluman. Beberapa pakar menilainya sebagai salah satu jet non-stealth paling tangguh di kelasnya, namun data nyata pertarungan silang dengan Rafale (yang memiliki sensor canggih, elektronik tempur Spectra, dan rekam jejak tempur di Libya, Suriah, dan Yemen) selama ini tidak tersedia.
Keterlibatan Mesir dalam latihan ini juga mencerminkan pergeseran geopolitik Kairo yang semakin terbuka terhadap Beijing. Tahun 2025, Mesir mengakuisisi sistem pertahanan udara HQ-9BE buatan China dan memesan sepuluh unit drone WJ-700. Minat Mesir terhadap J-10CE — versi ekspor J-10C — sempat hangat, meski Beijing menafikan adanya kesepakatan final. Latihan tahun lalu yang melibatkan J-10C dan MiG-29 Mesir sudah menandai pengerahan penuh pertama PLAAF ke Afrika, diakhiri dengan atraksi terbang seremonial di atas Piramida Giza.
Dari perspektif industri pertahanan Indonesia, dinamika ini relevan mengingat TNI AU sedang dalam tahap evaluasi pengadaan jet tempur generasi 4.5 untuk menggantikan F-16 dan Su-27/30 yang menua. Rafale sendiri pernah menjadi kandidat kuat dalam tender MRFP (Multi-Role Fighter Program) Indonesia, sebelum akhirnya Dijon memilih F-15EX Eagle II dan Rafale sebagai solusi campuran. Pengalaman operasional Rafale di Mesir — termasuk dalam latihan lawan J-16 — menjadi referensi data empiris yang berharga untuk perencanaan doktrin dan pelatihan pilot Indonesia.
Sementara itu, kehadiran China di Afrika Utara melalui diplomasi pertahanan menandakan ekspansi jangkau operasional PLAAF yang semakin sistematis. Kemampuan menerbangkan paket tempur lengkap — hunter, tanker, AEW&C, hingga helikopter — ke basis jarak 6.000 km tanpa henti logistik besar, menunjukkan kematangan doktrin "far seas operations" yang selama ini dikaitkan dengan Pasifik Barat. Bagi Indonesia yang memiliki kepentingan maritim di Hindia, pola proyeksi kekuatan serupa patut diamati sebagai studi kasus.
Latihan "Eagles of Civilization" dijadwalkan berlangsung hingga awal September 2026 dengan total 18 sesi pelatihan terstruktur. Hasil evaluasi teknis dari kedua sisi — terutama data radar, electronic support measures (ESM), dan kinematika pertarungan — kemungkinan besar akan meresap ke dalam kurikulum pelatihan dan doktrin tempur masing-masing angkatan udara. Bagi China, ini adalah uji nyata kemampuan ekspor dan interoperabilitas sistem senjata mereka. Bagi Mesir, ini adalah validasi keandalan aset Barat di hadapan lawan non-NATO modern.
Ke depan, perhatian akan beralih pada apakah Mesir akan merealisasikan pembelian J-10CE, serta bagaimana latihan ini mempengaruhi keseimbangan kekuatan udara di Timur Tengah. Jika China berhasil membuktikan J-16 setara Rafale dalam skenario tertentu, hal itu akan memperkuat daya tarik senjata China di pasar global — termasuk di Asia Tenggara, di mana beberapa negara sedang dalam proses modernisasi angkatan udara. Indonesia, dengan kebebasan non-blok dan kebutuhan diversifikasi sumber senjata, tidak akan luput dari dampak geopolitik jangka panjang ini.