Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 yang diselenggarakan pada 4-5 Juli 2026 di Istora Senayan, Jakarta, sukses mencatatkan capaian signifikan dengan total nilai transaksi mencapai Rp55 miliar. Angka tersebut mencakup akumulasi dari berbagai kegiatan, mulai dari transaksi langsung di pameran UMKM hingga hasil dari business matching pembiayaan serta peluang ekspor bagi para pelaku usaha kreatif di ibu kota.
Selain nilai transaksi langsung, ajang ini juga memfasilitasi komitmen pembiayaan perbankan yang cukup masif kepada korporasi melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Tercatat komitmen pembiayaan senilai Rp575 miliar berhasil dibangun, yang diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pertumbuhan sektor-sektor industri strategis di Jakarta.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa JKF 2026 berfungsi sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Perhelatan ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, pelaku UMKM, komunitas kreatif, akademisi, lembaga keuangan, hingga media dalam satu ekosistem yang saling menguatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Secara operasional, JKF 2026 melibatkan 377 tenant yang terdiri dari 290 tenant UMKM serta 87 tenant layanan, edukasi, dan komunitas. Dengan dukungan dari 67 lembaga dan instansi, festival selama dua hari ini berhasil menarik antusiasme tinggi dengan mencatatkan total 15 ribu pengunjung yang hadir langsung di lokasi acara.
Sektor kreatif seperti film dan musik juga mendapat perhatian khusus dalam festival ini melalui jalinan kerja sama antara perbankan dengan sineas muda dari Jakarta Youth Film Festival. Hal ini menegaskan bahwa industri konten kreatif kini telah menjadi sektor strategis yang mampu menjadi penggerak ekonomi baru bagi Provinsi DKI Jakarta di masa depan.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menekankan bahwa momentum JKF sangat krusial dalam menyongsong usia lima abad kota Jakarta. Transformasi menuju kota global memerlukan fondasi ekonomi yang kuat, di mana digitalisasi, inovasi, dan pemberdayaan UMKM menjadi pilar utama untuk meningkatkan daya saing Jakarta di kancah nasional maupun internasional.