Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan melalui Suku Dinas Kesehatan bersama TP PKK dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia membuka layanan mamografi gratis selama dua hari pada 15–16 Juli 2026. Program tersebut menyasar 100 warga dengan rincian 50 peserta per hari guna mendeteksi dini kanker payudara dan serviks.
Kasudin Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri, menyatakan kegiatan ini merupakan respons atas tingginya beban penyakit kanker di ibu kota. Mamografi dilakukan dengan prosedur pencitraan sinar-X dosis rendah untuk melihat struktur dalam payudara. Hari pertama dibuka untuk masyarakat umum dan kader PKK, sementara hari kedua dikhususkan bagi aparatur sipil negara di lingkungan Pemkot Jaksel.
Angka kematian akibat kanker di Jakarta meningkat sekitar 33 persen pada 2025. Dinas Kesehatan Provinsi DKI mencatat kanker sebagai penyebab kematian tertinggi dengan 5.729 kasus pada 2024. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah memperluas deteksi dini而非 sekadar pengobatan lanjutan.
Kanker payudara dan serviks termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat disembuhkan bila terdeteksi sejak stadium awal. Masalahnya, banyak perempuan menunda pemeriksaan karena biaya, stigma, atau ketidaktahuan. Skrining gratis menjadi jalan masuk untuk menjangkau kelompok rentan yang selama ini tidak tersentuh layanan kesehatan spesialistik.
Secara nasional, beban kanker perempuan belum merata teratasi. Fasilitas mamografi terkonsentrasi di rumah sakit besar pada kota-kota utama. Daerah padat penduduk seperti Jakarta Selatan membutuhkan pendekatan mobile atau kerja sama lintas lembaga agar cakupan lebih luas dalam waktu singkat.
Bagi warga Jakarta Selatan, program ini memberi akses tanpa hambatan biaya yang selama ini menjadi penghalang utama. Deteksi dini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menekan pengeluaran negara untuk perawatan paliatif stadium lanjut. Dampaknya melampaui aspek kesehatan karena produktivitas perempuan sebagai tulang punggung keluarga ikut terjaga.
Ketua TP PKK Jakarta Selatan, Azizah Syafrin, menilai pemeriksaan semacam ini sangat penting bagi warga yang ingin memastikan kondisi tubuhnya. Hasil skrining akan diinformasikan dua minggu setelah pemeriksaan. Ia berharap layanan serupa terus berlanjut, baik dalam bentuk pengobatan maupun deteksi dini gratis.
Debi Intan Suri menambahkan, skrining bertujuan memetakan tingkat bebas kanker payudara di wilayahnya. Data tersebut nantinya mencerminkan kondisi kesehatan payudara masyarakat Jaksel. Apabila angkanya rendah, pemkot dapat merancang intervensi lebih tepat sasaran pada tahun berikutnya.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan Dinkes DKI yang telah membuka layanan pemeriksaan kanker serviks di seluruh puskesmas. Penyintas kanker di Jaksel juga dilibatkan sebagai kader paliatif, sehingga edukasi berjalan dari tingkat masyarakat bawah. Sinergi antara pemkot, PKK, dan yayasan menjadi model yang bisa ditiru wilayah lain.
Ke depan, pemerataan alat mamografi dan edukasi rutin perlu dijadikan program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan insidentil. Kombinasi antara skrining gratis dan pembentukan kader deteksi dini akan mempercepat penurunan angka kematian. Masyarakat juga diimbau tidak menyembunyikan gejala karena kanker stadium awal masih memiliki peluang sembuh tinggi.
Langkah Jakarta Selatan menunjukkan bahwa pencegahan melalui data dan akses gratis lebih efektif daripada penanganan setelah stadium lanjut. Jika tren positif terjaga, model ini berpotensi menjadi standar layanan kesehatan perempuan di tingkat kota besar Indonesia.