Internasional

JK dan Gibran Hadiri Salat Gaib Mantan Emir Qatar

Ringkasan

  • Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla melaksanakan salat gaib di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026, untuk mantan Emir Qatar yang wafat pada usia 74 tahun.

Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menyerahkan surat belasungkawa sekaligus menyambangi Kantor Perwakilan Kedutaan Besar Qatar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 14 Juli 2026. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai respons atas meninggalnya mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, yang berpulang pada Ahad, 12 Juli 2026, dalam usia 74 tahun.

Tak hanya menyampaikan duka secara formal, Kalla bersama sejumlah pejabat tinggi negara melaksanakan salat gaib di Masjid Istiqlal, Jakarta. Rangkaian ibadah yang berbarengan dengan waktu salat dzuhur itu dipimpin langsung oleh Ustaz Husni Ismail sebagai imam. Kehadiran para tokoh nasional dalam momentum tersebut mencerminkan kedekatan hubungan diplomatik antara Jakarta dan Doha yang terjalin selama beberapa dekade.

Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merupakan sosok penting dalam sejarah modern Qatar. Ia lahir pada 1952 dalam keluarga Al Thani yang telah menguasai negeri tersebut sejak pertengahan abad ke-19. Pria yang menimba ilmu di Akademi Militer Britania Raya, Sandhurst, itu sempat menjabat sebagai panglima tentara sekaligus menteri pertahanan sebelum akhirnya naik takhta.

Puncak kekuasaan Hamad terjadi pada 1995 ketika ia melakukan kudeta yang tidak berdarah untuk menggulingkan ayahnya, Khalifa bin Hamad Al Thani, yang saat itu sedang berada di luar negeri. Langkah tersebut mengukuhkan posisinya sebagai Emir Qatar, sebuah jabatan yang diembannya dari 1995 hingga 2013.

Selama 18 tahun memimpin, Hamad dikenal sebagai pembaru. Pemerintahannya mengesahkan konstitusi permanen pertama pada 2004. Ia juga memperkenalkan pemilihan di tingkat kota yang secara progresif mengizinkan perempuan untuk memilih dan mencalonkan diri sebagai kandidat. Transformasi ini meletakkan fondasi bagi Qatar untuk menjadi negara berpendapatan tinggi dengan pengaruh geopolitik yang besar di Kawasan Teluk.

Bagi Indonesia, wafatnya Hamad membawa catatan tersendiri terkait hubungan bilateral. Qatar merupakan salah satu mitra strategis di Timur Tengah, terutama dalam bidang investasi energi, pendidikan, serta penyelenggaraan ibadah haji. Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam salat gaib tersebut menegaskan komitmen pemerintah saat ini untuk memelihara soliditas diplomasi dengan negara-negara Muslim.

Indonesia dan Qatar memiliki banyak irisan kepentingan, mulai dari kerja sama ekonomi melalui dana sovereign wealth fund Qatar hingga program beasiswa pendidikan tinggi. Di sisi lain, model kepemimpinan Hamad yang memfasilitasi ruang partisipasi perempuan dalam pemilihan lokal dapat menjadi cermin bagi banyak negara muslim, termasuk Indonesia yang terus mengonsolidasikan demokrasi di tingkat akar rumput.

Dalam keterangannya usai kunjungan ke Kuningan, Jusuf Kalla menuturkan rasa kehilangan yang mendalam. "Saya mengucapkan duka cita yang dalam atas wafatnya Yang Mulia Amir Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang tinggi di sisi-Nya," ucap Kalla.

Salat gaib di Istiqlal turut dihadiri oleh Duta Besar Qatar untuk Indonesia Sultan bin Mubarak Saad Al Dosari, serta sejumlah duta besar negara sahabat dari negara-negara muslim. Kebersamaan lintas negara dalam ritual keagamaan ini menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan keagamaan sering kali menjadi jembatan efektif dalam diplomasi internasional.

Pasca-wafatnya Hamad, tampuk kepemimpinan Qatar telah berada di tangan putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, sejak 2013. Tamim naik takhta pada usia 33 tahun setelah ayahnya menyerahkan posisi secara sukarela. Tamim menjabat sebagai emir hingga saat ini dan dipastikan akan meneruskan estafet kebijakan luar negeri ayahnya.

Ke depan, stabilitas politik di Qatar dipastikan tetap terjaga di bawah Tamim. Bagi Indonesia, hal ini menjadi angin segar karena kontinuitas kebijakan luar negeri Doha akan memudahkan negosiasi kerja sama bilateral, khususnya terkait diversifikasi energi dan investasi infrastruktur yang tengah digencarkan pemerintah Indonesia.

Momentum salat gaib kemarin juga menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi dan penguatan persaudaraan sebagai instrumen lunak dalam politik luar negeri. Di tengah dinamika geopolitik global yang fluktuatif, Indonesia tampaknya akan terus menjadikan Qatar sebagai mitra kunci di Kawasan Timur Tengah.

Mengapa Ini Penting

Wafatnya mantan Emir Qatar memiliki implikasi diplomatik bagi Indonesia mengingat Doha merupakan salah satu sumber utama investasi liquefied natural gas (LNG) dan dana sovereign wealth yang krusial bagi ketahanan energi nasional. Kehadiran pejabat tinggi seperti Wakil Presiden dan Menteri Agama dalam ritual keagamaan lintas batas menunjukkan bahwa diplomasi soft power berbasis nilai keagamaan masih menjadi instrumen efektif bagi Jakarta di Kawasan Timur Tengah. Stabilitas transisi kekuasaan di Qatar sejak 2013 juga menjamin kelanjutan kerja sama bilateral, termasuk dalam rencana pengembangan pusat pendidikan tinggi dan teknologi di Indonesia. Masyarakat Indonesia secara tidak langsung turut merasakan dampaknya melalui harga energi yang terkendali serta perluasan akses beasiswa pendidikan dari Timur Tengah.

Sumber Asli
Nasional
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit