Kapal riset ilmiah pertama yang dibangun oleh pihak swasta di China, Haiying Jiake, hingga kini masih belum mendapatkan penugasan perdana meskipun telah diluncurkan bulan lalu di dekat Wenling, Provinsi Zhejiang. Kapal dengan panjang 82 meter dan bobot 3.500 ton ini merupakan simbol ambisi sektor swasta dalam dunia riset kelautan, namun menghadapi tantangan operasional yang cukup berat di awal peluncurannya.
Proyek ambisius ini menelan biaya konstruksi sebesar 150 juta yuan atau sekitar 22 juta dolar AS. Dana tersebut dikumpulkan secara patungan oleh 37 nelayan asal Zhejiang yang memiliki visi untuk mendukung kemajuan riset laut dalam. Kapal ini dirancang secara canggih agar mampu beroperasi di seluruh samudra di dunia, termasuk wilayah perairan dengan lapisan es tipis, serta mendukung berbagai misi seperti pemetaan dasar laut hingga survei biologi dan geologi laut dalam.
Namun, hingga pertengahan Juni, Cai Yunjie, mantan nelayan berusia 51 tahun yang memimpin inisiatif ini, mengakui bahwa kapal tersebut belum mengamankan kontrak komersial pertamanya. Dalam keterangannya kepada Science and Technology Daily, Cai menyebutkan bahwa timnya masih belum memiliki rencana bisnis yang konkret mengenai bagaimana kapal ini akan menghasilkan pendapatan untuk menutupi biaya operasional yang sangat besar.
Besarnya biaya operasional menjadi kendala utama bagi Haiying Jiake. Chen Jiawang, Wakil Direktur Laboratorium Laut China Timur, mengungkapkan bahwa biaya harian untuk mengoperasikan kapal riset ini mencapai ratusan ribu yuan. Jika diakumulasikan, biaya pemeliharaan dan operasional tahunan kapal ini dapat melampaui angka 10 juta yuan, sebuah beban finansial yang cukup signifikan bagi entitas swasta tanpa dukungan pendanaan pemerintah.
Tantangan mendasar yang dihadapi oleh Haiying Jiake adalah absennya pasar yang mapan untuk kapal riset milik swasta di China. Selama ini, ekosistem riset kelautan di China didominasi oleh kapal-kapal milik universitas atau lembaga penelitian pemerintah yang operasionalnya sepenuhnya ditanggung oleh anggaran negara. Minimnya model bisnis yang melibatkan pihak swasta membuat kapal ini kesulitan untuk bersaing atau sekadar menemukan klien yang membutuhkan jasa riset kelautan secara mandiri.
Kondisi ini menyoroti kesenjangan antara kemajuan pembangunan infrastruktur fisik dengan kesiapan ekosistem komersial di sektor riset kelautan China. Meskipun secara teknologi Haiying Jiake mampu bersaing dengan kapal riset milik lembaga negara, tanpa adanya dukungan kebijakan atau pergeseran paradigma dalam riset kelautan yang melibatkan pihak swasta, kapal ini berisiko menjadi aset yang tidak produktif dalam jangka panjang.