Sains

Ilmuwan: Perubahan Iklim Jadi Penyebab Utama Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Ilmuwan: Perubahan Iklim Jadi Penyebab Utama Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Ringkasan

  • Ilmuwan internasional menyatakan perubahan iklim menjadi penyebab utama gelombang panas ekstrem di Eropa yang mustahil terjadi 50 tahun lalu.

Sekelompok ilmuwan internasional menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama di balik intensitas gelombang panas yang memecahkan rekor di wilayah Eropa. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Jumat (25/6), para ahli dari kelompok World Weather Attribution menyatakan bahwa suhu ekstrem yang terjadi saat ini secara praktis mustahil mustahil terjadi 50 tahun yang lalu tanpa pengaruh pemanasan global.

Studi yang melibatkan kolaborasi antara peneliti dari Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris ini membandingkan suhu saat ini dengan data historis. Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang panas serupa pada Juni 1976 akan memiliki suhu 3,5 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan saat ini. Peningkatan suhu global sebesar 1,4 derajat Celsius sejak era pra-industri, yang didorong oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas, telah mengubah dinamika cuaca secara drastis.

Theodore Keeping dari Imperial College London, penulis utama studi tersebut, menekankan bahwa pola cuaca yang terjadi saat ini tidak lagi mengikuti siklus alami yang dulu dikenal. Tanpa adanya kontribusi manusia terhadap perubahan iklim, fenomena suhu setinggi ini tidak akan mungkin terjadi. Para ilmuwan sepakat bahwa pemanasan global membuat peristiwa cuaca ekstrem menjadi jauh lebih sering terjadi dan memiliki dampak yang lebih destruktif.

Analisis juga membandingkan gelombang panas saat ini dengan peristiwa mematikan pada tahun 2003. Para peneliti menemukan bahwa gelombang panas di masa sekarang jauh lebih ekstrem, di mana suhu siang hari tercatat sekitar 2 derajat Celsius lebih panas dibandingkan tahun 2003. Bahkan, peluang terjadinya suhu malam hari yang ekstrem saat ini meningkat ratusan kali lipat dibandingkan dua dekade lalu.

Selain suhu udara, para ahli menyoroti ancaman serius dari heat stress atau tekanan panas yang muncul akibat kombinasi suhu tinggi dan kelembapan. Sebanyak 45 persen dari 850 kota di Eropa yang dianalisis diprediksi akan memecahkan rekor tekanan panas sepanjang masa. Kondisi ini sangat berbahaya karena sistem pendinginan alami tubuh manusia dapat gagal, yang berpotensi menyebabkan kelelahan ekstrem hingga kegagalan organ.

Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena El Nino tidak berperan dalam gelombang panas ini. Data menunjukkan bahwa perubahan iklim telah membuat peristiwa cuaca ekstrem menjadi ancaman nyata yang terjadi dalam rentang waktu yang sangat cepat. Upaya untuk membatasi pemanasan global kini dianggap sangat krusial bagi dunia untuk menghindari dampak terburuk yang lebih parah bagi kesehatan publik dan stabilitas lingkungan global.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menjadi pengingat bagi Indonesia, sebagai negara tropis, tentang pentingnya mitigasi perubahan iklim dan kesiapan infrastruktur terhadap lonjakan suhu ekstrem. Dampak perubahan iklim yang terukur di Eropa menunjukkan bahwa anomali cuaca adalah ancaman nyata yang dapat mengganggu ketahanan pangan, kesehatan publik, dan stabilitas energi di masa depan.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit