Gelombang panas yang berkepanjangan telah memicu puluhan titik kebakaran hutan di berbagai wilayah Inggris. Tekanan ekstrem kini dialami pasukan pemadam kebakaran setempat yang harus berjibaku tanpa henti melawan kobar api yang sulit dikendalikan.
Ketua National Fire Chiefs Council (NFCC), Phil Garrigan, menyatakan situasi darurat ini menuntut daya tahan maksimal dari seluruh unit pemadam. Hingga Selasa, setidaknya 19 titik api masih aktif menghanguskan lahan di seluruh negeri. Kondisi ini memburuk sejak akhir pekan lalu ketika sejumlah wilayah ditetapkan berstatus insiden besar.
Kemarau panjang dan suhu udara yang terus meroket menjadi akar dari krisis ini. Berbeda dengan negara-negara dengan iklim tropis yang kerap menghadapi kebakaran hutan, Inggris biasanya memiliki tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Namun, perubahan iklim global telah mengubah pola cuaca di Benua Eropa, menjadikan musim panas ekstrem sebagai ancaman baru yang tak terduga.
Pada Minggu lalu, otoritas setempat menetapkan status insiden besar di Conwy, Wales Utara, dan Glossop, Derbyshire. Api terus menjalar hingga Selasa, memaksa ratusan personel tetap bersiaga di lapangan. Wilayah lain seperti Hampshire, Durham, West Sussex, East Sussex, Devon, dan Somerset juga ikut terdampak selama akhir pekan.
Kondisi geografis Inggris yang didominasi lahan gambut kering membuat api sangat mudah merambat. Gambut merupakan bahan bakar yang sangat peka terhadap percikan api, dan sekali terbakar, proses pendinginannya membutuhkan waktu berminggu-minggu karena panas tersimpan jauh di bawah permukaan tanah.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menyajikan cermin sekaligus peringatan dini. Sebagai negara dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia, Indonesia telah lama bergulat dengan bencana kabut asap akibat kebakaran lahan. Meski penyebab utamanya kerap kali aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, faktor cuaca ekstrem kini semakin memperparah risikonya.
Teknologi deteksi dini berbasis satelit dan drone yang mulai diadopsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Tanah Air menunjukkan bahwa pendekatan modern sangat vital. Namun, Inggris menghadapi tantangan berbeda karena infrastruktur pemadam kebakaran mereka dirancang untuk iklim sedang, bukan untuk memadamkan bara api skala masif di musim kemarau ekstrem.
Krisis di Inggris juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mitigasi bencana iklim. Ketergantungan pada ramalan cuaca akurat menjadi kunci utama, di mana sistem peringatan dini di Eropa kini diuji ketahanannya menghadapi anomali iklim yang semakin tidak terprediksi.
Garrigan menegaskan kepada BBC Breakfast bahwa cuaca kering secara drastis meningkatkan risiko kebakaran yang tak terkendali. "Tidak ada waktu istirahat yang nyata bagi kami untuk bernapas lega. Hujan tidak diprakirakan akan turun dan ini menjadi masalah serius," ujarnya.
Di Wales Utara, Kepala Asisten Pemadam Kebakaran Justin Evans melaporkan perkembangan positif di Conwy. Kebakaran besar di wilayah tersebut akhirnya berhasil dikendalikan oleh North Wales Fire and Rescue Service. Kendati demikian, timnya masih harus berjuang melawan beberapa titik api aktif, termasuk di hutan Braichmelyn dekat Bethesda dan jajaran pegunungan Rhinogydd di dekat Harlech.
Dengan tidak adanya hujan dalam prakiraan cuaca mendatang, para pemadam kebakaran di Inggris dipastikan akan menghadapi pekan yang berat. Strategi rotasi personel dan pengadaan alat pemadam berat kemungkinan besar akan ditingkatkan guna mencegah meluasnya titik api.
Tren peningkatan suhu global diprediksi akan membuat peristiwa serupa terulang di masa depan. Negara-negara dengan iklim sedang harus segera merevisi protokol tanggap darurat kebakaran mereka, menyelaraskannya dengan skenario krisis iklim yang kini telah menjadi realitas baru.