Sebuah komite independen di Hong Kong segera mengakhiri serangkaian dengar pendapat terkait investigasi kebakaran paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Proses hukum ini akan mencapai tahap penutupan pada pertengahan Juli mendatang, setelah mengumpulkan berbagai kesaksian ahli mengenai faktor-faktor penyebab tragedi yang menelan 168 korban jiwa tersebut.
Pada sesi penutup dengar pendapat publik hari Kamis, dua profesor dari Polytechnic University, Asif Usmani dan Jiang Liming, dijadwalkan memberikan keterangan ahli. Kesaksian mereka diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai insiden yang melanda kompleks perumahan Wang Fuk Court pada 26 November tahun lalu, tepat saat gedung tersebut sedang dalam masa renovasi.
Kebakaran yang berlangsung selama 43 jam ini tercatat sebagai bencana api paling mematikan di Hong Kong sejak tahun 1948. Yiu Men-yeung, asisten direktur Departemen Layanan Pemadam Kebakaran wilayah New Territories South sekaligus ketua gugus tugas investigasi pemerintah, telah memaparkan lima faktor krusial yang berkontribusi pada tingginya angka kematian dalam insiden tersebut.
Salah satu temuan utama adalah penggantian jendela tahan api di tangga darurat dengan papan kayu yang dapat digeser untuk mempermudah akses pekerja konstruksi ke perancah. Keputusan ini terbukti fatal karena memudahkan api dan asap pekat masuk ke jalur evakuasi utama, sehingga menghambat upaya penyelamatan diri para penghuni gedung.
Selain itu, investigasi mengungkap bahwa sistem alarm kebakaran di lokasi sedang dinonaktifkan, sementara jalur keluar darurat terhalang oleh tumpukan puing-puing konstruksi. Jendela-jendela yang tertutup material renovasi juga secara signifikan mengurangi jarak pandang, menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi penghuni yang terjebak di dalam bangunan.
Lebih lanjut, komite mendengarkan kesaksian mengenai penggunaan jaring perancah yang tidak tahan api. Material tersebut memicu perambatan api ke bahan mudah terbakar lainnya dan menyebabkan bara api menyebar ke blok bangunan lain, yang menyebabkan pertumbuhan api secara eksponensial. Profesor Richard Yuen Kwok-kit menyatakan bahwa tragedi ini kemungkinan besar dapat dicegah jika kontraktor menggunakan jaring perancah yang memenuhi standar ketahanan api.