Perjalanan Selandia Baru di Piala Dunia yang berlangsung di Amerika Utara berakhir dengan kekecewaan mendalam. Setelah menanti selama 16 tahun untuk kembali ke panggung sepak bola global, tim berjuluk 'All Whites' ini harus pulang lebih awal tanpa meraih satu pun kemenangan. Hasil minor ini memicu perdebatan sengit mengenai keputusan FIFA yang memberikan jatah kualifikasi otomatis bagi zona Oseania.
Di bawah asuhan kapten Chris Wood, Selandia Baru memulai turnamen dengan catatan positif saat menahan imbang Iran 2-2. Namun, harapan tersebut sirna setelah mereka menelan kekalahan 3-1 dari Mesir dan dibantai 5-1 oleh Belgia pada pertandingan terakhir babak grup. Performa yang tidak konsisten ini membuat tim asuhan Darren Bazeley gagal melaju ke babak gugur.
Kritik tajam mulai muncul karena Selandia Baru dianggap mendapatkan 'jalan tol' menuju putaran final Piala Dunia yang kini diikuti oleh 48 negara. Berbeda dengan negara-negara dari zona lain yang harus berjuang keras melalui babak kualifikasi yang sangat kompetitif, Selandia Baru relatif mudah melenggang berkat minimnya pesaing profesional di kawasan Pasifik. Hal ini memicu kecemburuan dari negara-negara lain yang terpaksa tersingkir meski memiliki kualitas liga yang lebih mumpuni.
Banyak pihak menilai bahwa kegagalan ini merupakan peluang emas yang terbuang sia-sia bagi sepak bola di Selandia Baru, negara yang secara tradisional lebih menggemari olahraga rugbi. Meskipun tim kali ini dianggap sebagai skuad Selandia Baru yang paling siap secara materi pemain—dengan dukungan pemain berpengalaman di Liga Primer Inggris—mereka justru menunjukkan kelemahan fatal di lini pertahanan dengan total kebobolan 10 gol dalam tiga pertandingan.
Meski demikian, partisipasi di Piala Dunia tetap memberikan dampak finansial yang signifikan bagi asosiasi sepak bola Selandia Baru, yakni berupa hadiah uang sebesar 12,5 juta dolar AS. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem sepak bola domestik, terutama setelah munculnya klub profesional kedua, Auckland FC, yang mulai memberikan jalur karier lebih baik bagi bakat-bakat muda lokal.
Secara keseluruhan, turnamen ini menjadi pelajaran pahit bagi sepak bola Selandia Baru. Meski prestasi di lapangan belum memuaskan, pengalaman berharga dari turnamen internasional ini diharapkan menjadi fondasi untuk memperbaiki kualitas kompetisi domestik dan daya saing tim nasional di masa depan, agar jatah otomatis yang mereka miliki tidak lagi dipertanyakan oleh komunitas sepak bola internasional.