Partai Bersama, yang dipelopori oleh mantan Menteri Ekonomi Malaysia Rafizi Ramli, kini menjadi sorotan dalam dinamika politik negeri jiran. Meskipun banyak pengamat meragukan kemampuan partai ini untuk muncul sebagai kekuatan ketiga yang dominan, pengaruhnya dalam menyedot suara dari koalisi reformis Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Perdana Menteri Anwar Ibrahim tidak dapat disepelekan.
Uji coba elektoral pertama bagi Bersama akan berlangsung di Johor pada hari Sabtu mendatang. Fokus utama para pengamat bukan terletak pada jumlah kursi yang mungkin diraih oleh partai tersebut, melainkan pada potensi mereka untuk menggerogoti basis suara PH dalam pertarungan multi-partai. Dalam kontestasi yang ketat, Bersama dikhawatirkan hanya akan menjadi faktor pengganggu atau 'spoiler' daripada pesaing serius yang mampu memegang kekuasaan.
Azmi Hassan, seorang peneliti senior di Nusantara Academy for Strategic Research, menyatakan bahwa meskipun Bersama memiliki potensi untuk menarik pemilih Melayu di kawasan perkotaan atau semi-perkotaan, dampak keseluruhannya terhadap lanskap politik nasional masih sangat minim. Menurutnya, Bersama belum memiliki struktur yang cukup kuat untuk menantang partai-partai mapan tanpa melakukan kolaborasi strategis dengan koalisi besar lainnya.
Karakter pemilih di Johor yang dikenal pragmatis menjadi tantangan tersendiri bagi Bersama. Tanpa adanya aliansi yang solid, partai ini dianggap kesulitan untuk membuktikan kredibilitasnya sebagai alternatif nyata di hadapan konstituen. Analis menekankan bahwa tanpa dukungan koalisi, posisi Bersama dalam pemilu ini hanya akan memecah suara pendukung reformasi, yang justru bisa menguntungkan pihak oposisi.
Situasi di Johor sendiri diprediksi akan menjadi pertarungan sengit antara petahana Barisan Nasional (BN) dan koalisi Pakatan Harapan (PH). Meski kedua kubu ini menjalin kerja sama di tingkat federal, mereka memilih untuk bersaing secara mandiri di 56 kursi Johor. Hal ini menambah kompleksitas dinamika di lapangan, terutama dengan kehadiran Perikatan Nasional (PN) yang membidik 33 kursi.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Bersama telah memutuskan untuk mencalonkan kandidat di 15 kursi. Langkah ini dipandang oleh berbagai pengamat politik sebagai upaya untuk menunjukkan eksistensi, namun di saat yang sama, langkah ini membawa risiko besar bagi stabilitas dukungan terhadap Anwar Ibrahim. Konsolidasi suara menjadi kunci, dan kehadiran pihak ketiga yang tidak terduga sering kali mengubah peta jalan kemenangan di menit-menit terakhir.