Keiko Sofia Fujimori Higuchi akhirnya dipastikan terpilih sebagai presiden baru Peru setelah melalui proses penghitungan suara yang sangat ketat. Kepastian ini diperoleh setelah Kantor Proses Pemilu Nasional Peru (ONPE) merampungkan rekapitulasi 100 persen dari 92.766 berita acara hasil pemungutan suara pada Senin (29/6). Kemenangan ini secara resmi mengakhiri salah satu pemilihan presiden paling dramatis dalam sejarah modern Peru, dengan selisih suara yang tipis antara Fujimori dan pesaingnya, Roberto Sanchez dari koalisi Juntos por el Peru, yakni hanya sebesar 49.641 suara.
Kemenangan ini menjadi tonggak bersejarah bagi Fujimori, yang kini berusia 51 tahun. Ia mendapatkan mandat untuk memimpin negara di kawasan Pegunungan Andes tersebut untuk masa jabatan konstitusional periode 2026-2031. Pencapaian ini sekaligus menjadi momen penebusan politik yang luar biasa bagi Fujimori setelah melalui empat kali kampanye presiden berturut-turut, di mana tiga percobaan sebelumnya berakhir dengan kekalahan di putaran kedua, serta berbagai hambatan hukum yang sempat menyita perhatian publik.
Perjalanan karier politik Fujimori memang penuh dengan dinamika. Ia mulai dikenal publik sejak tahun 1994 saat berperan sebagai ibu negara di usia 19 tahun pasca perpisahan orang tuanya. Warisan politik ayahnya, mantan Presiden Alberto Fujimori yang dipenjara akibat kasus korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia, kerap menjadi tantangan besar bagi citra politiknya selama bertahun-tahun. Namun, ia berhasil bertahan dan membangun basis pendukungnya sendiri melalui partai konservatif Fuerza Popular yang didirikannya pada tahun 2009.
Sebelum mencapai kursi kepresidenan, Fujimori memiliki rekam jejak yang panjang di dunia legislatif. Ia pernah menjabat sebagai anggota Kongres periode 2006-2011 dengan perolehan suara individu tertinggi sepanjang sejarah legislatif Peru pada saat itu. Latar belakang pendidikannya pun cukup mumpuni, yakni menyandang gelar Sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas Boston serta gelar Magister Administrasi Bisnis (MBA) dari Universitas Columbia, yang membekalinya dengan kemampuan manajerial untuk memimpin negara.
Kemenangan ini mencatatkan rekor baru bagi Peru, di mana Keiko Fujimori akan menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan presiden di negara tersebut. Ia dijadwalkan akan dilantik pada 28 Juli mendatang. Dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun ke depan, Fujimori akan didampingi oleh Luis Galaretta Velarde sebagai Wakil Presiden Pertama dan Miguel Angel Torres Morales sebagai Wakil Presiden Kedua, yang keduanya merupakan tokoh politik berpengalaman di Peru.
Keberhasilan Fujimori dalam meraih kursi kepresidenan setelah melewati masa-masa sulit, termasuk penahanan pra-persidangan selama lebih dari 500 hari, menunjukkan ketangguhan politik yang jarang ditemui. Kini, publik Peru menantikan bagaimana pemerintahan baru di bawah kepemimpinannya akan membawa perubahan bagi stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi setelah melalui periode pemilihan yang sangat terpolarisasi dan penuh dengan tantangan sosial-politik.