Kontrak pembelian 12 unit jet tempur multirole kelas ringan M-346F Block 20 resmi ditandatangani antara Leonardo dengan PT ESystem Solutions Indonesia pada 21 Juli 2026. Penandatanganan ini menindaklanjuti Surat Niat (LoI) yang disepakati kedua pihak pada Februari 2026, menandakan komitmen nyata dalam program modernisasi alutsista TNI Angkatan Udara.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Sirait menegaskan pengadaan berbasis kebutuhan kapabilitas. Pesawat ini difungsikan sebagai platform pelatihan pilot tingkat lanjut (Lead-In Fighter Trainer) sekaligus mendukung kesiapan operasional, memungkinkan pilot beradaptasi dengan sistem avionik dan senjata generasi modern yang akan dioperasikan.
Keputusan ini tidak berdiri sendirian. Indonesia sebelumnya telah mengontrak 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation Prancis bernilai sekitar Rp132 triliun, dengan enam unit pertama sudah tiba pada Mei 2026. Rico menegaskan kedua platform berbeda peran: Rafale sebagai tempur superioritas udara dan serangan strategis, sedangkan M-346F mengisi kekosongan pelatihan dan tempur ringan.
Dari sudut teknologi, M-346F Block 20 dibekali radar AESA Grifo-346, data link taktis, serta sistem pelatihan tertanam (Embedded Training System) yang mensimulasikan ancaman radar dan senjata tanpa perlu musuh nyata. Kapabilitas ini krusial untuk menjembatani transisi pilot dari pesawat pelatihan dasar ke jet generasi 4.5 seperti Rafale, mengurangi biaya dan risiko kecelakaan saat konversi tipe.
Mitra lokal PT ESystem Solutions Indonesia diproyeksikan memainkan peran vital dalam dukungan logistik, simulasi, hingga potensi perakitan di dalam negeri. Leonardo sendiri sudah memiliki jejak industri di Indonesia melalui helikopter AW139 dan AW101, membuka peluang transfer teknologi dan ketergantungan spare part yang lebih terkelola.
Strategis, kombinasi Rafale dan M-346F menciptakan efisiensi biaya operasional. Menggunakan Rafale untuk misi pelatihan rutin akan menguras jam terbang mahal dan mempercepat keausan sel airframe. M-346F dengan biaya operasional per jam terbang jauh lebih rendah, ideal untuk misi intercept ringan, close air support, dan patroli maritim harian.
Di konteks regional, langkah ini menjawab kebutuhan keseimbangan kekuatan. Malaysia mengandalkan Hawk 208, Thailand operasikan T-50TH Golden Eagle, sementara Singapura sudah lama memakai M-346 Master. Indonesia kini memiliki platform serupa dengan kemampuan tempur yang lebih ditingkatkan (F variant), memperkuat postur Minimum Essential Force (MEF) 2024-2034.
"Kedua platform saling melengkapi, bukan saling menggantikan," ujar Rico menegaskan komplementaritas. Filosofi ini mencerminkan pendekatan hi-lo mix yang diterima banyak angkatan udara modern: sedikit platform premium didukung banyak platform sekunder yang murah dan serbaguna.
Tantangan selanjutnya terletak pada integrasi sistem senjata dan jaringan data link antara kedua tipe agar interoperabilitas terealisasi. TNI AU juga harus mempercepat pembangunan infrastruktur simulator dan fasilitas pemeliharaan di pangkalan utama seperti Iswahjudi dan Supadio.
Ke depan, Kontrak ini membuka pintu pembelian tambahan (option clause) hingga 24 unit sesuai rencana awal MEF. Jika realisasi berlanjut, Indonesia akan memiliki armada pelatihan dan tempur ringan yang substansial, mendukung kemandirian pertahanan serta menarik minat industri dirgantara dalam negeri untuk naik kelas.