Berita

Kereta Maglev China Hancurkan Rekor Akselerasi, Capai 800 Km/Jam dalam 5,3 Detik

Ringkasan

  • Kereta eksperimental levitasi magnetik China memecahkan rekor dunia akselerasi dengan mencapai 800 km/jam dari diam dalam 5,3 detik di uji coba Laboratorium East Lake, Hubei, Kamis (13/8).

Sebuah kereta eksperimental levitasi magnetik (maglev) buatan China berhasil menetapkan standar baru kecepatan akselerasi jarak pendek. Mesin itu melesat dari posisi diam menyentuh angka 800 kilometer per jam hanya dalam 5,3 detik — kecepatan yang mendekati kecepatan jelajah pesawat penumpang komersial. Uji coba bersejarah ini digelar di lintasan tes sepanjang satu kilometer di Laboratorium Kereta Api Cepat East Lake, Provinsi Hubei, pada Kamis (13/8).

Pencapaian ini menandai kali ketiga laboratorium tersebut memecahkan rekor dunia di lintasan uji yang sama. Tim peneliti sebelumnya telah mengungkapkan ambisi untuk mengembangkan sistem maglev yang mampu melaju hingga 1.000 kilometer per jam. Jika target itu terwujud, perjalanan lintas benua seperti New York ke Los Angeles — jarak sekitar 4.000 kilometer — teoritis bisa diselesaikan dalam lima jam saja, jauh lebih cepat dari penerbangan konvensional.

Teknologi inti yang mendorong kecepatan ekstrem ini adalah pengambangan magnetik. Berbeda dengan roda rel konvensional yang bergesekan, gerbong maglev melayang di atas rel tanpa sentuhan fisik. Penghilangan gesekan mekanis inilah yang memungkinkan percepatan instan dan kecepatan akhir yang mustahil dicapai kereta api biasa. Rel dilapisi elektromagnet dengan kutub magnet yang dapat dibalik arahnya melalui pengaturan arus listrik.

Mekanisme dorongnya bekerja seperti gelombang magnetik bergerak. Kutub magnet di depan gerbong diatur untuk menarik bagian depan kereta. Begitu kereta melintas, arus listrik dibalikkan sehingga kutub di belakang berubah menjadi gaya tolak. Kombinasi tarikan dari depan dan dorongan dari belakang menciptakan gerakan terus-menerus dengan presisi tinggi. Kecepatan pergantian kutub elektromagnetik itulah yang mengendali laju dorongan kereta.

Kendali tidak hanya soal percepatan. Para peneliti membuktikan sistem pengereman pun mampu menghentikan benda bermassa besar dari kecepatan 800 km/jam dengan halus. Kereta berhenti total dalam jarak sekitar 200 meter — bukti bahwa stabilitas dan keamanan pada kecepatan hipersonik sudah mulai dikuasai. Aspek ini krusial karena tantangan terbesar transportasi supercepat bukan hanya kecepatan, tapi bagaimana menghentikannya dengan aman.

Di sisi lain, tim terpisah dari Universitas Teknologi Pertahanan Nasional China juga menguji varian maglev supercepat mereka. Catatan terbaru mereka menunjukkan akselerasi hingga 697 kilometer per jam hanya dalam dua detik — angka yang menggeser batas toleransi fisiologis manusia. Kedua program ini, meskipun berjalan paralel, saling melengkapi dalam memetakan batas-batas fisika dan rekayasa transportasi magnetik.

Saat ini, kedua teknologi ini memang belum ditujukan untuk mengangkut penumpang. Gaya-G yang dihasilkan saat percepatan ekstrem melebihi batas aman tubuh manusia. Namun, para ilmuwan melihat aplikasi strategis di bidang lain. Prinsip dasar sistem peluncuran magnetik ini dikembangkan untuk sistem peluncuran roket dan pesawat tempur generasi mendatang, di mana percepatan instan tanpa bahan bakar kimia menjadi keuntungan taktis.

Pengembangan selanjutnya mengarah ke konsep "vactrain" — kereta maglev yang beroperasi di dalam tabung bertekanan rendah atau ruang hampa udara. Dengan menghilangkan hambatan udara, kecepatan 1.000 km/jam atau lebih menjadi realistis. China saat ini memimpin penelitian ini secara global, mengalahkan proyek serupa di Jepang, Jerman, maupun Hyperloop di Amerika Serikat yang masih terjebak validasi teknis dan biaya.

Tantangan terbesar tetap pada ekonomi dan infrastruktur. Membangun jaringan rel maglev presisi tinggi untuk jarak jauh membutuhkan investasi triliunan yuan. Biaya per kilometer jauh melampaui rel kecepatan tinggi konvensional. Faktor keselamatan penumpang pada kecepatan hipersonik, sistem evakuasi darurat, dan standar kebisingan pun belum terstandarisasi secara internasional.

Bagi Indonesia, pencapaian ini menarik perhatian meski belum langsung relevan operasional. Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung beroperasi pada 350 km/jam — jauh di bawah ambisi maglev China. Namun, transfer teknologi magnetik dan manajemen sistem rel presisi tinggi bisa menjadi pembelajaran jangka panjang. PT KCIC dan KAI sudah memulai kolaborasi pengetahuan dengan pihak China, dan pemahaman tentang teknologi maglev generasi depan akan memperkaya kapasitas teknis dalam negeri.

Di masa depan, jika biaya infrastruktur turun dan standar keamanan termanfaatkan, koridor Trans-Jawa atau Trans-Sumatera bisa mempertimbangkan maglev sebagai alternatif jangka panjang. Untuk saat ini, pencapaian 800 km/jam dalam 5,3 detik tetap menjadi bukti kemampuan rekayasa China mendorong batas fisika transportasi darat — dan mengingatkan dunia bahwa era kecepatan baru baru saja dimulai.

Mengapa Ini Penting

Pencapaian ini bukan sekadar angka kecepatan, tapi bukti kematangan teknologi pengambangan magnetik untuk aplikasi skala besar. Bagi Indonesia yang baru mengoperasikan Whoosh, pemahaman awal tentang maglev generasi depan strategis untuk perencanaan jaringan rel jangka 20-30 tahun mendatang. Lebih jauh, teknologi peluncuran magnetik ini bersifat dual-use — relevan untuk pertahanan (peluncuran roket/pesawat tempur) dan eksplorasi antariksa, bidang yang mulai digarap LAPAN dan BRIN. Mengabaikan perkembangan ini berarti ketinggalan kurva pembelajaran teknologi transportasi dan sistem propulsion canggih.

Sumber Asli
CNN Indonesia Teknologi
Tanggal
16 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit