Memasuki hari ke-120 konflik yang terus memanas, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih. Kedua negara terlibat aksi saling serang yang menandai eskalasi militer pertama sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pekan lalu. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum kedua pihak dijadwalkan kembali melakukan perundingan diplomatik tingkat tinggi.
Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan mereka ditujukan pada fasilitas penyimpanan rudal, lokasi drone, serta situs radar pesisir Iran. Aksi ini diklaim sebagai bentuk balasan atas serangan pesawat nirawak terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya secara terbuka menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gangguan keamanan di jalur perdagangan vital tersebut.
Pihak Iran melalui Kementerian Luar Negeri segera mengeluarkan kecaman keras, menyatakan bahwa serangan AS terhadap fasilitas pengawasan pesisir mereka merupakan pelanggaran langsung terhadap Pasal 1 dari nota kesepahaman yang telah disepakati. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan bahwa mereka telah membalas agresi tersebut dengan menargetkan lokasi pengerahan militer AS di wilayah Timur Tengah, meskipun hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan dari pihak Washington.
Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, menilai serangan di tengah proses diplomasi ini menunjukkan kurangnya komitmen Amerika Serikat terhadap perdamaian. Menurutnya, tindakan Washington telah merusak kepercayaan yang coba dibangun melalui perundingan. Di sisi lain, otoritas pelabuhan di Provinsi Hormozgan melaporkan bahwa fasilitas di Sirik tidak mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
Sementara itu, di Washington, Wakil Presiden JD Vance memberikan peringatan tegas bahwa Amerika Serikat akan merespons setiap tindakan kekerasan dengan kekuatan yang setara. Pentagon juga telah merilis rekaman visual yang menunjukkan efektivitas serangan mereka terhadap infrastruktur militer Iran. Situasi ini menciptakan ketidakpastian besar bagi stabilitas keamanan di Selat Hormuz, yang merupakan titik vital bagi distribusi energi global.
Di tengah kekacauan tersebut, Departemen Luar Negeri AS juga mengumumkan kerangka kesepakatan baru antara Lebanon dan Israel, yang mencakup rencana penarikan pasukan Israel secara bertahap seiring dengan pelucutan senjata kelompok non-negara. Namun, fokus dunia saat ini tetap tertuju pada eskalasi di Iran, yang dinilai banyak pengamat dapat mengganggu stabilitas geopolitik global secara signifikan jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.