Internasional

Kim Jong Un Resmikan Kapal Perang Baru, Perkuat Ambisi Armada Nuklir Korea Utara

Kim Jong Un Resmikan Kapal Perang Baru, Perkuat Ambisi Armada Nuklir Korea Utara

Ringkasan

  • Kim Jong Un meresmikan kapal perang Choe Hyon dan menegaskan ambisi Korea Utara untuk melengkapi angkatan laut mereka dengan persenjataan nuklir.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru saja menegaskan komitmennya untuk memperkuat kekuatan angkatan laut negara tersebut dengan persenjataan nuklir. Langkah ini diambil di tengah upaya Pyongyang untuk terus meningkatkan kapabilitas militer mereka, meskipun saat ini masih terkekang oleh berbagai sanksi internasional yang ketat. Kim menyatakan bahwa pengembangan armada nuklir merupakan langkah strategis yang vital bagi pertahanan negara.

Dalam sebuah upacara resmi yang disiarkan oleh media pemerintah pada hari Selasa, Kim meresmikan kapal perang seberat 5.000 ton bernama Choe Hyon. Acara tersebut berlangsung di kota pelabuhan Nampho, di wilayah barat Korea Utara. Kapal ini digadang-gadang sebagai aset militer canggih yang akan mendukung operasional pasukan angkatan laut agar lebih efisien dan siap menghadapi ancaman dari berbagai arah.

Menurut laporan resmi, kapal Choe Hyon telah dilengkapi dengan sistem persenjataan paling kuat yang dimiliki oleh Korea Utara saat ini. Kim Jong Un bahkan telah memantau langsung uji coba rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal perang tersebut. Langkah ini menunjukkan keseriusan Pyongyang dalam melakukan modernisasi alutsista laut mereka demi mencapai keseimbangan kekuatan di kawasan regional.

Lebih lanjut, Kim mengungkapkan rencana ambisius untuk segera meresmikan kapal perusak besar lainnya, yaitu Kang Kon. Tidak berhenti di situ, Pyongyang juga berencana untuk mulai membangun kapal perang strategis dengan bobot mencapai 10.000 ton. Pengembangan kapal berukuran besar ini dipandang sebagai simbol untuk memperkecil kesenjangan kekuatan laut dengan Korea Selatan serta mendekati kemampuan armada laut dalam (blue-water navy) milik Amerika Serikat.

Pyongyang secara konsisten memposisikan dirinya sebagai negara nuklir yang tidak dapat diubah (irreversible). Pemerintah Korea Utara menarasikan pembangunan kekuatan militer ini sebagai bentuk pencegahan terhadap ancaman dari Washington dan Seoul. Ketegangan di Semenanjung Korea tetap tinggi karena kedua pihak secara teknis masih dalam kondisi perang, dan Kim terus menuduh aliansi AS-Korea Selatan membawa kawasan tersebut ke ambang perang nuklir.

Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan Korea Utara yang sebelumnya lebih berfokus pada kekuatan darat dan rudal balistik antarbenua. Dengan memperluas jangkauan ke laut, Korea Utara berusaha menciptakan ancaman yang lebih sulit dideteksi oleh musuh. Dunia internasional kini menanti reaksi dari negara-negara tetangga terkait eskalasi militer yang dilakukan oleh Pyongyang di perairan Semenanjung Korea tersebut.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi militer di Semenanjung Korea dapat memicu ketidakstabilan geopolitik yang berdampak pada jalur perdagangan maritim global di Asia Pasifik. Bagi Indonesia, situasi ini menuntut kewaspadaan diplomatik serta penguatan pertahanan nasional di tengah meningkatnya tensi keamanan di kawasan regional.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
24 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit