Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyampaikan apresiasi atas kinerja serapan anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran (APBN TA) 2025. Realisasi tersebut mencapai 91,59 persen atau senilai Rp 2.206.188.883.295 dari total pagu anggaran revisi sebesar Rp 2.408.834.380.000.
Penghargaan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani saat memimpin Rapat Kerja (Raker) bersama jajaran Kemenpora di Ruang Sidang Komisi X, Jakarta, pada Selasa. Capaian ini mencerminkan efektivitas eksekusi program kerja kementerian di bawah kendali Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir sepanjang tahun berjalan.
Pujian dari legislatif tidak datang tanpa catatan strategis. DPR menilai bahwa angka serapan di atas 90 persen harus dibarengi dengan kualitas output yang terukur. Hal ini menjadi krusial mengingat anggaran negara merupakan amanat publik yang menuntut akuntabilitas transparan di setiap rupiah yang dibelanjakan.
Komisi X secara tegas meminta Kemenpora memperkuat kualitas perencanaan dan penganggaran ke depan. Setiap program dan kegiatan diharapkan memiliki indikator kinerja yang terukur, berorientasi pada hasil, serta selaras dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Langkah ini dirancang untuk memastikan tidak ada alokasi yang terbuang sia-sia di tengah pemulihan ekonomi nasional.
Selain aspek perencanaan, transformasi pengawasan internal berbasis teknologi menjadi sorotan tajam para wakil rakyat. Lalu Hadrian menekankan perlunya Kemenpora membenahi sistem pengendalian internal dan manajemen risiko melalui digitalisasi audit. Fokus utamanya meliputi pengadaan barang dan jasa, penyaluran bantuan pemerintah, hingga pengelolaan aset kementerian yang kerap menjadi titik rawan penyimpangan.
Tuntutan percepatan penyelesaian rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga digaungkan dalam rapat tersebut. DPR ingin agar tindak lanjut hasil pemeriksaan dilakukan secara tuntas dan terukur, sehingga opini pengelolaan keuangan negara dapat terjaga dengan predikat tertinggi di masa mendatang.
Dari perspektif ekosistem olahraga nasional, capaian anggaran ini berdampak langsung pada sejumlah hajatan besar. Anggota Komisi X dari Fraksi Partai Gerindra, Melly Goeslaw, menyoroti suksesnya penyelenggaraan SEA Games 2025. Kontingen Indonesia berhasil meraih 91 medali emas dan menduduki peringkat kedua, sebuah prestasi terbaik di luar kandang sejak 1995.
Bonus atlet senilai Rp 465,25 miliar juga disalurkan tepat waktu, menunjukkan manajemen administratif yang mulai berpihak pada kesejahteraan atlet. Di sisi lain, gelaran MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika tercatat membawa dampak ekonomi mencapai Rp 4,96 triliun. Angka ini menjadi bukti bahwa investasi pada infrastruktur dan event olahraga kelas dunia berpotensi mendongkrak perekonomian daerah secara signifikan.
Indonesia Sport Summit (ISS) 2025 turut dipandang sebagai terobosan penting dalam memperkuat ekosistem industri olahraga. Menpora Erick Thohir menanggapi apresiasi tersebut dengan ucapan terima kasih. Ia mengungkapkan bahwa koordinasi lintas kedeputian menjadi kunci keberhasilan, terutama saat menangani program ISS 2025 yang mendapat pelimpahan penugasan dari kementerian dan lembaga terkait.
"Alhamdulillah di ISS 2025 kemarin banyak terobosan di mana salah satunya kita mendapat pelimpahan penugasan dari K/L terkait lainnya. Dan terakhir bagaimana memastikan pelatnas dan persiapan SEA Games 2025 dan Paragames berjalan dengan baik," ujar Erick Thohir menanggapi evaluasi DPR.
Menjelang APBN TA 2026, tekanan untuk meningkatkan capaian realisasi anggaran akan semakin nyata. Komisi X secara terbuka mengharapkan angka 91,59 persen dapat dilewati, disertai dengan efisiensi yang lebih presisi. Transformasi tata kelola berbasis data dan digitalisasi pelaporan menjadi keniscayaan agar Kemenpora tidak hanya cepat menyerap anggaran, tetapi juga tepat sasaran.
Tren positif dari event olahraga berskala internasional di Tanah Air diharapkan berlanjut dengan dukungan teknologi. Kolaborasi melalui platform seperti ISS 2025 akan mempercepat adopsi sports-tech, melahirkan startup di sektor olahraga, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai hub ekosistem digital olahraga di Asia Tenggara.