Teknologi

Kolaborasi SLB dan Liberty Energy Sokong Infrastruktur Pusat Data AI

Ringkasan

  • SLB dan Liberty Energy menjalin kerja sama pada 14 Juli untuk menyuplai komponen modular dan pembangkit listrik gas alam bagi pusat data global guna memenuhi lonjakan permintaan teknologi AI.

Pada 14 Juli, SLB mengumumkan kemitraan strategis dengan Liberty Energy. Kedua perusahaan jasa ladang minyak itu bersepakat menyediakan suku cadang modular sekaligus pasokan energi bagi pusat data. Langkah ini diambil seiring melonjaknya kebutuhan fasilitas komputasi kecerdasan buatan (AI) di berbagai belahan dunia.

Dalam kesepakatan tersebut, SLB bertugas merancang dan memasok komponen prefabrikasi modular untuk proyek pusat data. Sementara itu, Liberty Energy akan mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam. Kolaborasi ini mencerminkan transformasi peran kontraktor sektor migas yang mulai merambah infrastruktur digital.

Gelombang permintaan pusat data didorong oleh ekspansi model AI generatif yang membutuhkan daya komputasi masif. Perusahaan ladang minyak tradisional melihat peluang baru di tengah transisi energi. SLB, yang sebelumnya fokus pada layanan seismik dan pengeboran, kini mengalihkan sebagian kapasitas manufakturnya ke modul pusat data.

Sejak April 2024, SLB telah mengapalkan lebih dari 1,3 gigawatt (GW) infrastruktur pusat data modular prefabrikasi. Perusahaan memproyeksikan pengiriman kumulatif melampaui 2 GW secara global pada akhir tahun ini. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya adopsi solusi modular yang memangkas waktu konstruksi pusat data.

Liberty Energy sendiri bukan nama asing bagi SLB. Pada 2020, SLB melepas bisnis hidraulik frakturisasi Amerika Utara kepada Liberty. Kini, setelah lima tahun, hubungan keduanya berlanjut ke ranah yang berbeda: dari memecah batuan bawah tanah menjadi menyokong server AI di permukaan.

Bagi Indonesia, tren ini memberikan sinyal sekaligus tantangan. Negeri ini tengah menjadi tujuan investasi pusat data dari raksasa teknologi global. Namun, ketersediaan listrik yang stabil dan rendah emisi masih menjadi kendala di sejumlah kawasan industri.

Penggunaan pembangkit gas alam seperti yang diterapkan Liberty dapat menawarkan pasokan cepat, tetapi bertentangan dengan komitmen net-zero Indonesia. Di sisi lain, pendekatan modular SLB berpotensi mempercepat pembangunan tanpa harus menunggu jaringan transmisi nasional siap. Hal ini relevan untuk wilayah seperti Batam atau Kawasan Industri Terpadu Batang.

Kontraktor migas lokal juga dapat mengambil pelajaran. Kemampuan rekayasa berat dan logistik yang selama ini dipakai untuk ladang lepas pantai bisa dialihfungsikan ke infrastruktur digital. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kolaborasi serupa antara perusahaan energi domestik dan operator pusat data di Tanah Air.

SLB menyatakan pihaknya sudah menjadi mitra desain untuk pusat data AI modular yang dibangun di atas teknologi Nvidia. Bersama perusahaan chip asal Amerika Serikat itu, SLB mengembangkan platform "AI Factory for Energy". Platform tersebut bertujuan membantu produsen migas dan perusahaan listrik menerapkan AI pada tumpukan data operasional mereka.

Di samping itu, Liberty berencana mengerahkan sekitar 3 GW proyek pembangkitan listrik hingga 2029. Kombinasi pasokan modul dari SLB dan tenaga dari Liberty menciptakan rantai nilai baru. Ini adalah contoh nyata diversifikasi bisnis kontraktor ladang minyak ke sektor teknologi tinggi.

Ke depan, SLB dipastikan akan terus mengejar target pengiriman modularnya. Sementara Liberty fokus pada ekspansi turbin gas dan sistem pembangkitan terdistribusi. Sinergi semacam ini mungkin memicu standar baru bagi pembangunan pusat data yang gesit dan terdesentralisasi.

Revolusi AI tidak lagi sekadar tentang perangkat lunak. Infrastruktur fisik berupa modul dan energi menjadi medan pertempuran berikutnya. Perusahaan yang dahulu menggali minyak kini memastikan lampu di server tetap menyala, sebuah ironi sekaligus realitas ekonomi baru.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia, ketergantungan pada impor solusi modular dan pembangkit gas dari luar negeri dapat memperlambat kemandirian infrastruktur digital nasional. Di saat yang sama, lonjakan permintaan AI global berpotensi menarik investasi serupa ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, namun memicu kompetisi atas pasokan energi bersih. Kolaborasi antarsektor migas dan teknologi seperti ini juga mengisyaratkan bahwa transisi energi tidak selalu berarti meninggalkan fosil, melainkan repurposing aset untuk kebutuhan baru. Masyarakat luas perlu menyadari bahwa biaya langganan layanan AI pada akhirnya menyertakan harga dari konsumsi listrik dan modul fisik yang tidak terlihat.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit