Milisi Houthi di Yaman melancarkan serangan rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi pada Senin (13/7/2026). Serangan itu merupakan balasan atas bombardir yang dilakukan jet tempur Saudi terhadap landasan pacu Bandara Sanaa beberapa jam sebelumnya.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim operasi tersebut menargetkan infrastruktur vital di wilayah pegunungan selatan Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Menurutnya, penggunaan sejumlah rudal dan drone adalah respons langsung terhadap apa yang disebut sebagai agresi kriminal Riyadh. Tindakan ini sekaligus mengakhiri periode de-eskalasi sejak gencatan senjata informal berlaku pada Maret 2022.
Konflik terbaru bermula sekitar sepuluh hari lalu ketika sebuah pesawat maskapai Iran, Mahan Air, mendarat di Sanaa. Pesawat tersebut mengangkut delegasi pemimpin Houthi yang hendak menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Penerbangan langsung dari Iran ke ibu kota Yaman itu tergolong langka karena Saudi memblokir rute tersebut lebih dari satu dekade lantaran kekhawatiran pengiriman senjata atau penasihat militer.
Saudi sempat berupaya mencegah pesawat mendarat, namun gagal. Houthi lantas mengancam akan menyerang bandara-bandara Saudi jika kejadian serupa terulang. Pada Senin, saat pesawat Iran kembali dari Tehran membawa delegasi, militer Saudi menghujani Bandara Sanaa dengan bom. Akibatnya, pesawat terpaksa memutar arah dan mendarat di Al Hudaydah, kota pelabuhan di pesisir Laut Merah.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengklaim pesawat Mahan Air membawa senjata, komponen rudal, serta tenaga ahli militer untuk Houthi. Klaim tersebut memperkeruh situasi karena Mahan Air merupakan entitas yang dikenai sanksi AS akibat afiliasinya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Di sisi lain, laporan Axios menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman meminta dukungan Presiden Donald Trump untuk menyerang Yaman, dan permintaan itu disetujui.
Eskalasi di Semenanjung Arab ini memiliki relevansi teknologi pertahanan bagi Indonesia. Houthi membuktikan bahwa aktor non-negara dapat memanfaatkan drone dan rudal balistik berbiaya rendah untuk mengancam bandara internasional. Badan pengatur penerbangan Indonesia selama ini telah mewaspadai intrusi drone ilegal di sekitar bandara, namun jarak geografis membuat ancaman fisik dari Yaman masih jauh.
Industri drone dalam negeri turut mendapat pelajaran berharga. PT Dirgantara Indonesia dan sejumlah startup lokal mengembangkan pesawat nirawak untuk pemetaan dan pertanian, namun konflik Yaman menunjukkan sisi ganda teknologi serupa. Pengawasan terhadap rantai pasok komponen elektronik serta proteksi perangkat lunak menjadi krusial agar platform sipil tidak disalahgunakan untuk keperluan militer.
Dampak tidak langsung juga menyentuh masyarakat Indonesia melalui rute penerbangan. Penutupan atau pengalihan ruang udara Saudi berpotensi menaikkan harga tiket bagi jemaah haji dan pelancong yang transit di Timur Tengah. Blokade Bandara Sanaa semakin memperparah krisis kemanusiaan, mengingatkan kita pada kerentanan infrastruktur sipil terhadap serangan presisi.
"Menanggapi agresi kriminal Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Internasional Abha, menggunakan sejumlah rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak," ucap Yahya Saree dalam pernyataan video yang dikutip AFP. Ia juga memperingatkan maskapai internasional untuk menghindari wilayah udara Saudi sampai pengepungan di Sanaa dicabut.
Pejabat AS menegaskan status sanksi Mahan Air. "Mahan Air adalah maskapai yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Maskapai itu telah ditetapkan sebagai entitas yang dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat," kata sumber tersebut kepada Reuters. Pernyataan itu digunakan untuk membenarkan dukungan Washington terhadap serangan Saudi ke Yaman.
Ke depan, periode tenang yang bertahan sejak 2022 dipastikan rapuh. Houthi telah mengisyaratkan perluasan target jika blokade Sanaa tidak diakhiri, sementara Riyadh didukung penuh oleh Washington. Analis regional khawatir bentrokan bersenjata ini meluap menjadi gangguan pasokan energi global jika fasilitas di sekitar Selat Hormuz terdampak.
Bagi sektor teknologi, permintaan sistem penangkal drone (counter-UAV) diprediksi meningkat di negara-negara Teluk. Indonesia yang memiliki ekosistem startup radar dan keamanan siber dapat menangkap peluang ekspor, asalkan mampu memenuhi standar interoperabilitas militer internasional. Dinamika Saudi-Houthi membuktikan bahwa inovasi pertahanan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari geopolitik abad ke-21.