Danantara Indonesia resmi menetapkan sejumlah konsorsium yang beranggotakan perusahaan lokal dan Tiongkok untuk mengembangkan serta mengoperasikan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) pada tahap kedua. Pengumuman yang disampaikan Senin (13/7) itu mencakup delapan wilayah aglomerasi yang selama ini menghadapi tekanan volume sampah yang terus meningkat.
Dalam rincian yang dipublikasikan, proyek PSEL Kabupaten Bekasi dikerjakan oleh kolaborasi China Everbright Environment Group Ltd., PT Harmoni Development Indonesia, dan PT Bioregen Enviro Tech. Sementara itu, fasilitas Serang Raya digarap PT Chandra Waste Energy bersama Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc. Setidaknya enam dari delapan proyek tahap dua melibatkan perusahaan Tiongkok, baik sebagai pemimpin konsorsium maupun mitra teknologi.
Penunjukan mitra ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Indonesia memang sedang bergulat dengan krisis sampah perkotaan yang kian akut. Data historis menunjukkan bahwa puluhan juta ton sampah rumah tangga dan komersial dihasilkan setiap tahun, dengan mayoritas berakhir di tempat pembuangan akhir yang sudah melebihi kapasitas.
Oleh karena itu, pendekatan pengolahan sampah menjadi energi listrik menjadi salah satu jawaban strategis. PSEL menjanjikan pengurangan volume sampah secara drastis sekaligus pasokan listrik yang lebih bersih. Badan Pengelola Investasi Danantara hadir sebagai koordinator pembiayaan dan pengawasan agar proyek berjalan terukur.
Tahap pertama seleksi mitra PSEL sebelumnya sudah menetapkan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. untuk fasilitas Denpasar Bali dan Bogor Raya 1, serta Wangneng Environment Co., Ltd. untuk Kota Bekasi. Dengan masuknya tahap kedua, total proyek yang dikawal Danantara makin meluas dan memperlihatkan pola kemitraan yang seragam: perusahaan Tiongkok membawa teknologi, sedangkan perusahaan Indonesia menyediakan jaringan dan izin lokal.
Dominasi teknologi asal Tiongkok dalam daftar mitra mencerminkan kematangan industri waste-to-energy di negara tersebut. Mereka memiliki ratusan pembangkit serupa yang beroperasi dengan efisiensi tinggi. Namun, bagi Indonesia, kehadiran mereka membuka peluang sekaligus tantangan. Transfer pengetahuan harus benar-benar terjadi agar anak usaha lokal kelak mampu mandiri.
Dampak langsung bagi masyarakat di wilayah aglomerasi meliputi potensi pengurangan bau dan pencemaran dari tempat pembuangan sampah. Di sisi lain, listrik yang dihasilkan dapat menambah pasokan bagi jaringan PLN, meski kontribusinya perlu dikaji secara realistis. Yang tak kalah penting, ekosistem industri pendukung seperti jasa pengangkutan dan daur ulang akan terstimulasi.
Sebagai contoh, Shanghai SUS Environment Co., Ltd. melalui anak usahanya sudah lebih dulu menangani proyek PSEL Kota Makassar. Pengalaman eksekusi di Makassar menjadi semacam uji coba yang memperlihatkan bahwa model kemitraan multinasional bisa beradaptasi dengan regulasi lokal. Keikutsertaan mereka di Lampung Raya dan Surabaya Raya menandai ekspansi cepat perusahaan tersebut di tanah air.
"Keterlibatan perusahaan pengolah sampah menjadi energi listrik terkemuka dunia menunjukkan bahwa Indonesia semakin dipercaya sebagai tujuan investasi. Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat transfer teknologi, membangun kapasitas nasional, dan memperkuat ekosistem industri pengelolaan sampah di Indonesia," ujar CEO PT Danantara Investment Management Pandu Sjahrir.
Proses pemilihan sendiri diklaim telah melalui penilaian objektif. Direktur Investasi DIM sekaligus CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara Fadli Rahman menegaskan bahwa aspek kredensial, kemampuan finansial, komitmen jangka panjang, hingga rekam jejak eksekusi di Indonesia menjadi bahan pertimbangan utama. Danera, sebagai unit Danantara yang fokus PSEL, memastikan mitra terpilih siap secara kelembagaan.
Langkah berikutnya, setiap konsorsium wajib memenuhi syarat sebelum menerima Final Letter of Award. Persyaratan tersebut meliputi penyusunan studi kelayakan, finalisasi struktur proyek, pembentukan perusahaan patungan, penyelesaian dokumen komersial, serta penguncian komitmen pembiayaan dari pihak perbankan atau investor. Tanpa itu, proyek tidak akan masuk tahap konstruksi.
Ke depan, keberhasilan tahap kedua akan menjadi barometer bagi ambisi besar Indonesia dalam mengubah sampah menjadi aset energi. Jika proses transfer teknologi berjalan mulus, Indonesia tidak hanya mendapatkan pembangkit baru, tetapi juga fondasi industri hijau yang berdaya saing. Masyarakat luas tentu menunggu realisasi nyata di lapangan, bukan sekadar pengumuman bergengsi.