Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) terus mengintensifkan upaya peningkatan kualitas Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Fokus utama pengembangan ini mencakup penguasaan teknis, kemampuan berbahasa, hingga kesiapan mental, guna memastikan tenaga kerja Indonesia mampu bersaing secara kompetitif di pasar kerja internasional, khususnya di Korea Selatan.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Skill Test UBT (Uji Kompetensi Berbasis Komputer) Umum untuk Sektor Perikanan. Program ini merupakan bagian dari skema kerjasama antarnegara atau Government to Government (G-to-G) antara Indonesia dan Korea Selatan. Kegiatan seleksi yang berlangsung di Semarang pada akhir pekan lalu diikuti oleh 1.063 peserta yang datang dari berbagai pelosok tanah air.
Direktur Jenderal Penempatan KP2MI, Ahnas, menegaskan bahwa proses seleksi bukanlah titik akhir dari perjalanan para CPMI. Ia mengimbau para peserta untuk terus konsisten meningkatkan keterampilan teknis di bidang perikanan serta memperdalam penguasaan bahasa Korea. Menurutnya, pembelajaran yang berkelanjutan adalah fondasi utama bagi pekerja untuk bertahan dan berkembang di negara penempatan.
Persaingan dalam program G-to-G Korea Selatan tergolong sangat ketat karena melibatkan calon pekerja dari 16 negara mitra lainnya. Oleh karena itu, Ahnas menekankan bahwa keunggulan kompetitif harus dibangun sedini mungkin. Tanpa peningkatan kualitas yang signifikan, tenaga kerja Indonesia akan sulit menembus standar ketat yang ditetapkan oleh pihak otoritas ketenagakerjaan Korea Selatan.
Selain aspek teknis, KP2MI juga memberikan perhatian khusus pada pembinaan kesiapan mental dan profesionalisme. Bekerja di luar negeri menuntut ketahanan emosional dan adaptasi budaya yang tinggi. Kombinasi antara kompetensi profesional dan stabilitas mental dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pekerja migran dalam menghadapi dinamika lingkungan kerja yang menantang di negeri ginseng.
Antusiasme peserta dalam seleksi tahun ini dinilai sangat tinggi, dengan keterwakilan dari 20 provinsi di Indonesia, mulai dari Papua hingga wilayah Sumatra. Partisipasi yang inklusif ini menunjukkan bahwa program penempatan resmi melalui skema G-to-G semakin diminati masyarakat sebagai jalur aman dan terpercaya untuk mendapatkan pekerjaan berkualitas di luar negeri.