Seorang orang tua murid di tingkat sekolah dasar dikejutkan oleh temuan yang tidak terduga dalam buku panduan mengeja (spelling booklet) milik putrinya. Alih-alih sekadar menemukan daftar kosakata untuk melatih kemampuan literasi, ia justru mendapati serangkaian kalimat contoh yang sarat dengan stereotipe gender tradisional yang kaku dan regresif.
Dalam buku tersebut, peran laki-laki dan perempuan digambarkan melalui pembagian kerja yang sangat spesifik dan kuno. Kalimat-kalimat contoh yang disajikan secara konsisten menempatkan sosok ibu atau perempuan di ranah domestik, seperti memasak, menjahit, atau membuat kue. Sementara itu, sosok ayah atau laki-laki digambarkan sebagai pihak yang bekerja hingga larut malam atau melakukan aktivitas di luar rumah.
Salah satu kalimat yang paling disoroti oleh orang tua tersebut adalah pernyataan bahwa ibu menjerit saat melihat cicak. Penggambaran ini dianggap memperkuat narasi bahwa perempuan adalah sosok yang lemah atau penakut, sebuah stigma yang sudah lama diperjuangkan untuk dihilangkan dalam literasi pendidikan modern. Pesan-pesan terselubung ini dikhawatirkan dapat membentuk persepsi anak-anak mengenai batasan peran laki-laki dan perempuan sejak usia dini.
Penulis artikel, Penelope Chan, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa paparan berulang terhadap narasi semacam ini dapat membatasi aspirasi anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan cenderung menyerap informasi dari materi sekolah sebagai kebenaran mutlak, sehingga stereotipe tersebut berpotensi membentuk pandangan mereka tentang masa depan dan potensi diri mereka sendiri.
Kritik ini tidak hanya ditujukan untuk membela peran perempuan, tetapi juga mencakup ketidakadilan bagi laki-laki. Banyak ayah di masa kini yang aktif dalam pekerjaan domestik, seperti memasak, namun materi pendidikan tersebut justru mengabaikan realitas sosial yang lebih progresif. Hal ini menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan realitas kehidupan keluarga yang sebenarnya.
Pada akhirnya, artikel ini menjadi pengingat penting bagi institusi pendidikan dan penyusun kurikulum untuk lebih kritis dalam memilih materi ajar. Kurikulum sekolah seharusnya menjadi alat untuk membuka wawasan dan mendukung kesetaraan, bukan justru melanggengkan bias gender yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan akan masyarakat yang inklusif.