Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) resmi mengoperasikan layanan mobil klinik hewan keliling. Program ini dirancang untuk menjangkau warga di area yang paling membutuhkan layanan kesehatan satwa peliharaan. Penentuan lokasi bukan dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan pemetaan ilmiah dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakarta Timur, Theresia Elita, menjelaskan bahwa titik awal pelayanan keliling tersebut ditetapkan setelah pihaknya menerima usulan dari tingkat kecamatan. Usulan tersebut kemudian dikaji mendalam oleh IPB untuk memetakan lokasi yang masuk kategori sangat prioritas, prioritas, maupun cukup prioritas. Pendekatan berbasis data ini memastikan distribusi fasilitas kesehatan hewan lebih merata dan tepat sasaran.
Penyusunan peta prioritas ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan layanan veteriner di wilayah perkotaan yang padat. Sejumlah indikator krusial digunakan dalam penentuan status suatu wilayah, mulai dari kepadatan penduduk, populasi hewan peliharaan, hasil pelaksanaan sterilisasi kucing, serta capaian vaksinasi hewan di area tersebut. Tanpa pemetaan semacam ini, layanan publik rentan tumpang tindih atau justru terkonsentrasi di zona yang sudah memiliki klinik swasta memadai.
Di sisi lain, metode analisis dari IPB juga mempertimbangkan pola pergerakan masyarakat dan aksesibilitas geografis. Theresia menegaskan bahwa peringkat hasil kajian akan menentukan jadwal pelaksanaan secara bergilir. Tujuannya agar program jemput bola ini perlahan dikenal luas oleh masyarakat tanpa meninggalkan kelurahan yang benar-benar kekurangan fasilitas medis satwa.
Pada tahap awal, Sudin KPKP Jakarta Timur menurunkan armada klinik keliling selama sepekan penuh di Kecamatan Ciracas, Duren Sawit, dan Cakung. Ketiga wilayah ini menjadi barometer awal sebelum layanan diperluas ke kecamatan lain. Setelah dua minggu berjalan, instansi terkait akan melakukan evaluasi mendalam terhadap tingkat antusiasme dan respon warga setempat.
Evaluasi tersebut akan menentukan nasib lokasi selanjutnya. Apabila respons masyarakat terbilang positif, layanan akan dipertahankan di titik yang sama. Sebaliknya, jika animo rendah, tim akan mencari lokasi baru sambil membuka rute mingguan secara bertahap. Strategi adaptif ini penting agar anggaran operasional mobil klinik memberikan dampak maksimal bagi kesejahteraan hewan.
Kehadiran mobil klinik ini membawa angin segar bagi pemilik hewan peliharaan, terutama mereka yang selama ini terkendala jarak dan biaya. Tarif pelayanan telah ditetapkan merujuk pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemeriksaan kesehatan hewan secara rawat jalan dikenakan tarif Rp35.000, sedangkan pemeriksaan dan pengobatan kucing dipatok Rp70.000.
Bagi pemilik anjing, biaya pemeriksaan dan pengobatan mencapai Rp100.000. Nilai yang sama berlaku untuk kambing dan sapi. Layanan tindakan di ruang operasi, seperti operasi kecil, dibanderol Rp175.000. Program sterilisasi yang sudah mencakup pemeriksaan, laboratorium, dan tindakan ditetapkan sebesar Rp400.000 untuk kucing dan Rp700.000 untuk anjing. Fasilitas elektromedik seperti USG dikenakan Rp200.000.
Meskipun tarifnya jauh lebih terjangkau dibanding rata-rata klinik swasta, pemerintah daerah menegaskan tidak berniat mematikan iklim usaha pelaku veteriner independen. Theresia menuturkan bahwa penentuan harga telah melalui proses penghitungan matang agar tetap berada pada kisaran standar. Pihaknya sengaja menghindari penetapan tarif terlalu rendah demi menjaga ekosistem bisnis kesehatan hewan tetap sehat.
"Kami juga tidak ingin memberikan harga yang terlalu rendah karena di dunia bisnis juga ada pihak swasta. Jadi kami mengimbangi saja. Secara umum harganya masih terjangkau dan standar," ucap Theresia. Ia turut mengajak seluruh warga Jakarta Timur yang memiliki anak bulu atau anabul untuk memanfaatkan layanan tersebut. Pelayanan ini diklaim setara dengan fasilitas swasta berkat peralatan yang dibawa.
Untuk mendekatkan akses, mobil klinik akan bersiaga di Kantor Kelurahan Pondok Bambu, Duren Sawit pada 15-16 Juli, dilanjutkan di Kantor Kelurahan Penggilingan, Cakung pada 17 Juli. Operasional berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga 14.30 WIB. Jadwal padat ini menunjukkan komitmen pemerintah kota dalam memberikan layanan kesehatan preventif kepada satwa peliharaan masyarakat.
Ke depan, model layanan keliling berbasis pemetaan IPB ini berpotensi menjadi blueprint bagi wilayah administratif lain di DKI Jakarta, bahkan kota besar di Indonesia. Mengingat populasi kucing dan anjing liar maupun berstatus peliharaan terus meningkat, intervensi kesehatan publik seperti sterilisasi dan vaksinasi wajib digencarkan. Kendati demikian, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi evaluasi dan transparansi penempatan rute armada.