Delegasi Lebanon dan Israel menggelar pertemuan selama dua hari di Kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Roma pada Selasa (14/7). Agenda utama adalah merumuskan mekanisme implementasi kesepakatan kerangka yang ditengahi Washington untuk menghentikan perang di selatan Lebanon.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan kepada delegasinya agar menuntut penarikan segera pasukan Israel dari dua area tertentu di selatan Lebanon sebelum pembahasan lanjutan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyatakan negaranya siap melaksanakan rencana penarikan dari dua zona percontohan. Ia berharap putaran dialog di Roma dapat mempercepat proses tersebut.
Kesepakatan awal lahir dari pertemuan di Washington DC pada 26 Juni yang menuntut pengakhiran agresi Israel, pelucutan senjata kelompok bersenjata, serta penempatan tentara Lebanon di wilayah selatan. Namun realitas di lapangan bertolak belakang. Serangan mematikan masih terjadi, sementara Hezbollah menolak kesepakatan dan upaya pelucutan senjata. Israel bersikeras pasukannya tetap di selatan selama Hezbollah menguasai persenjataan.
Sejak perang kembali berkobar pada 2 Maret di tengah konflik regional yang lebih luas, diplomasi yang dipimpin AS terus berjalan meski mendapat tentangan kuat dari kelompok yang berpihak pada Iran. Kesepakatan antara AS dan Iran pada pertengahan Juni menyatakan gencatan senjata di semua front, termasuk perang Israel di Lebanon. Kendati demikian, Israel menilai konflik dengan Hezbollah sebagai masalah keamanan nasional dan terus melancarkan serangan.
Militer Israel saat ini menduduki apa yang disebut zona penyangga selebar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon sepanjang perbatasan. Pejabat Israel berargumen zona itu penting untuk melindungi warga utara Israel dari serangan roket. Tindakan tersebut memaksa penduduk lokal mengungsi dan menghancurkan infrastruktur seperti terowongan bawah tanah. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.000 warga tewas dan sekitar satu juta orang mengungsi sejak Maret. Di pihak Israel, 32 tentara dan empat warga sipil tewas akibat serangan Hezbollah.
Italia memainkan peran tuan rumah dengan motif mendorong gencatan senjata otentik. Menlu Antonio Tajani mengatakan Roma menawarkan tempat karena ingin ibu kota mereka menjadi simbol perdamaian. Salah satu pejabat Lebanon menilai pemindahan lokasi pembicaraan ke Roma memudahkan kedua delegasi berkonsultasi dengan pemerintah masing-masing.
Bagi pembaca Indonesia, eskalasi di Lebanon memiliki relevansi langsung melalui kehadiran pasukan garuda dalam misi UNIFIL. Stabilitas di selatan Lebanon menentukan keamanan ratusan tentara Indonesia yang bertugas sebagai penjaga perdamaian. Jika zona percontohan berhasil dibentuk, risiko terhadap personel TNI dapat berkurang seiring pengambilalihan area oleh militer Lebanon.
Dampak lain menyentuh aspek kemanusiaan dan ekonomi. Konflik berkepanjangan berpotensi menambah tekanan harga energi global karena Timur Tengah merupakan sumber minyak utama. Indonesia yang mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak akan merasakan imbas kenaikan harga subsidi bahan bakar. Pengalaman mediasi domestik seperti proses damai Aceh dapat menjadi referensi bahwa pendekatan bertahap zona demi zona sering kali lebih realistis daripada penyelesaian sekaligus.
Saar menegaskan kesiapan negaranya melalui pernyataan resmi. “Kami siap melangkah maju mengimplementasikan dua zona percontohan ini,” ujarnya. Ia menambahkan harapan agar diskusi Roma memajukan pelaksanaan kesepakatan. Sementara itu, sumber diplomatik Lebanon menginformasikan bahwa angkatan bersenjata mereka siap mengambil alih secara bertahap lokasi yang ditinggalkan Israel.
Presiden Aoun sebelumnya menyatakan mengharapkan langkah konkret di lapangan dari pertemuan Roma. “Kami berharap pertemuan ini menghasilkan langkah nyata dan praktis,” ucapnya. Tajani menuturkan, “Roma menjadi ibu kota perdamaian melalui penyelenggaraan pertemuan ini.”
Komando Pusat AS (CENTCOM) disebut mengoordinasikan persiapan zona percontohan dengan kedua belah pihak. Delegasi militer AS berkunjung ke Lebanon akhir pekan lalu untuk merinci rencana tersebut. Pejabat Lebanon menyebut delegasinya akan menuntut penarikan berurutan satu zona setelah zona lainnya.
Prospek ke depan masih diwarnai ketidakpastian. Penolakan Hezbollah terhadap kesepakatan dan keengganan Israel meninggalkan posisi keamanan menjadi penghalang utama. Namun jika proyek pilot zone terealisasi, model penarikan bertahap bisa menjadi preseden bagi penyelesaian konflik serupa di kawasan lain.