Kondisi pasar tenaga kerja di Singapura tengah berada dalam fase yang sangat menantang bagi para lulusan perguruan tinggi. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, banyak lulusan baru terpaksa menelan pil pahit dengan menerima tawaran pekerjaan sementara yang hanya memberikan kompensasi jauh di bawah standar gaji rata-rata lulusan sarjana di negara tersebut.
Program pemerintah yang dikenal sebagai Graduate Industry Traineeships (GRIT) menjadi salah satu solusi darurat bagi para pencari kerja. Melalui program ini, lulusan muda ditempatkan di berbagai instansi pemerintah maupun perusahaan swasta untuk mendapatkan pengalaman kerja yang relevan. Namun, kompensasi yang ditawarkan hanya berkisar antara S$1.800 hingga S$2.400 per bulan.
Angka tersebut menjadi sorotan karena hanya mencapai separuh dari gaji awal rata-rata seorang lulusan universitas di Singapura. Bahkan, nominal ini tercatat lebih rendah dibandingkan gaji yang diterima oleh seorang trainee manajemen di jaringan restoran cepat saji seperti McDonald’s, yang syarat pendidikannya jauh lebih rendah dibandingkan lulusan universitas.
Lee Jia En, lulusan berusia 25 tahun dari Singapore University of Social Sciences, mengungkapkan dilema yang dihadapi rekan-rekannya. Meskipun merasa berat harus menerima gaji yang jauh lebih kecil dibandingkan teman-temannya setelah menempuh pendidikan selama empat tahun, ia merasa program ini adalah satu-satunya jalan untuk tetap relevan di pasar kerja yang sangat kompetitif.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang dihadapi pemerintah di berbagai negara dalam menjaga stabilitas pasar kerja lulusan baru. Adopsi kecerdasan buatan (AI) yang masif, perlambatan perekrutan pascapandemi, serta ketegangan geopolitik global telah menciptakan lingkungan kerja yang tidak menentu dan memicu sikap kehati-hatian yang berlebihan dari para pelaku bisnis.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, Singapura merasakan dampak ekonomi yang cukup kuat. Menteri Tenaga Kerja Singapura, Tan See Leng, telah mengonfirmasi bahwa ketidakpastian ekonomi global membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam merekrut karyawan baru. Selain itu, Perdana Menteri Lawrence Wong juga telah memberikan peringatan bahwa otomatisasi AI akan menyebabkan hilangnya beberapa jenis pekerjaan di masa depan.