Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengeluarkan peringatan keras terkait rencana Iran untuk memberlakukan biaya layanan maritim bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk di Bahrain pada Kamis (25/6), Rubio menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat memicu efek domino yang berbahaya di jalur pelayaran internasional lainnya di seluruh dunia.
Rubio menekankan bahwa perairan internasional bukanlah milik negara berdaulat mana pun. Menurutnya, prinsip kebebasan navigasi adalah fondasi stabilitas global. Jika suatu negara diizinkan memungut biaya hanya karena posisi geografisnya yang berdekatan dengan wilayah perairan tersebut, maka hal ini dikhawatirkan akan menyebar luas seperti penularan penyakit yang menyebabkan kekacauan total dalam perdagangan global.
Pihak Teheran berdalih bahwa pungutan yang mereka rencanakan hanyalah biaya layanan maritim, bukan retribusi formal. Namun, Washington dengan tegas menolak narasi tersebut dan bersikukuh bahwa Selat Hormuz adalah jalur perairan internasional yang harus bebas dari segala bentuk beban biaya bagi kapal yang melintas.
Dalam kunjungan regional pertamanya pasca-penandatanganan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, Rubio menyatakan komitmen AS untuk mencapai kesepakatan damai. Meski demikian, ia menegaskan bahwa AS tidak akan menerima kesepakatan dengan harga berapa pun. Ia menuntut kesepakatan yang nyata, dapat diverifikasi, dan dipatuhi sepenuhnya oleh pihak Iran.
Di sisi lain, ketegangan di lapangan tetap tinggi. Garda Revolusi Iran secara resmi memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintas di luar rute yang ditetapkan oleh Teheran akan menghadapi tindakan tegas. Mereka menyatakan bahwa rute yang diumumkan oleh otoritas Iran adalah satu-satunya jalur yang sah, seraya mengecam rute alternatif yang dirilis oleh pihak Oman melalui koordinasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Sebagai penutup, Rubio memberikan jaminan kepada negara-negara Teluk bahwa kepentingan keamanan dan stabilitas mereka menjadi prioritas bagi Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa setiap langkah diplomatik yang diambil Washington tidak akan merugikan stabilitas maupun kemakmuran mitra-mitranya di kawasan tersebut, di tengah upaya menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka.