Selama bertahun-tahun, banyak pekerja merasa tertekan untuk mengikuti norma kantor yang tidak tertulis demi menjaga hubungan baik atau karier. Mantan penyiar radio, Jillian Lim, mengungkapkan pengalamannya dalam menavigasi budaya kerja yang menuntut kepatuhan sosial, mulai dari ajakan minum setelah jam kerja hingga kewajiban makan siang bersama rekan kerja. Bagi banyak orang, menolak ajakan tersebut sering kali dianggap sebagai tindakan yang kurang kooperatif atau bahkan mengancam posisi seseorang di mata manajemen.
Pada masa lalu, budaya minum alkohol setelah jam kerja menjadi ritual wajib untuk membangun kedekatan dengan atasan atau merayakan pencapaian tertentu. Fenomena ini sering kali menciptakan dilema bagi karyawan muda yang merasa terpaksa mengeluarkan biaya besar atau mengorbankan waktu pribadi hanya agar bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan profesional. Namun, seiring berjalannya waktu dan pergeseran demografi di dunia kerja, tekanan sosial tersebut kini mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda yang lebih memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Selain budaya minum, terdapat pula norma-norma kecil lainnya yang sering kali dibiarkan meski terasa tidak nyaman. Sebagai contoh, penggunaan panggilan yang merendahkan atau tidak profesional di lingkungan kantor, seperti panggilan 'sayang' atau 'dear' dari atasan kepada bawahan. Banyak karyawan memilih untuk tetap diam dan menerima perlakuan tersebut demi menghindari konflik atau dianggap sebagai pribadi yang sulit bekerja sama, padahal hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan profesionalisme di tempat kerja.
Kegiatan makan siang bersama rekan kerja juga sering dianggap sebagai kewajiban sosial untuk mempererat ikatan tim. Meskipun interaksi sosial di kantor memang penting untuk membangun kerja sama tim yang solid, memaksakan diri untuk selalu hadir dalam setiap ajakan sosial justru dapat menyebabkan kelelahan mental. Menentukan batas yang sehat bukan berarti seseorang tidak menghargai rekan kerjanya, melainkan upaya untuk menjaga energi agar tetap produktif selama jam kerja berlangsung.
Menjadi seorang ibu dari dua anak telah mengubah perspektif Jillian Lim mengenai pentingnya menetapkan batasan. Kini, ia lebih memilih untuk membatasi aksesibilitasnya di luar jam kerja, seperti menyimpan ponsel saat berada di rumah, demi memberikan perhatian penuh kepada keluarga. Langkah ini terbukti tidak mengurangi kualitas pekerjaannya, melainkan justru membantunya menjadi individu yang lebih fokus dan bahagia saat kembali beraktivitas di kantor keesokan harinya.
Pada akhirnya, menetapkan batasan di dunia kerja adalah keterampilan profesional yang perlu dipelajari. Mengatakan 'tidak' pada norma yang tidak relevan atau mengganggu bukan berarti seseorang adalah rekan kerja yang buruk. Sebaliknya, hal ini menunjukkan kedewasaan dan efektivitas dalam mengelola waktu serta energi. Dunia kerja modern kini semakin menghargai hasil kerja yang nyata dibandingkan dengan sekadar kehadiran fisik atau kepatuhan pada ritual sosial yang tidak relevan.