Berita

Metro Tutup Dua Gerai Terakhir di Singapura, Berakhirnya Era 70 Tahun

Ringkasan

  • Raksasa ritel Singapura Metro akan menutup gerai Paragon dan Causeway Point, mengakhiri kehadiran 70 tahunnya di negara itu sebagai bagian dari transformasi bisnis menjauhi format toko departemen besar.

Metro Holdings resmi mengumumkan penutupan dua toko departemen terakhirnya di Singapura, masing-masing berlokasi di mal mewah Paragon di Orchard Road dan Causeway Point di Woodlands. Keputusan ini menutup babak panjang perjalanan perusahaan yang bermula dari toko tekstil kecil di High Street pada 1957. Penutupan bertahap ini merupakan bagian dari strategi pengalihan model bisnis dari ritel format besar ke segmen properti dan investasi.

Pendiri Metro, Ong Tjoe Kim, memulai usahanya di Surabaya pada 1953 sebelum pindah ke Singapura akibat sentimen anti-Tionghoa yang melanda Indonesia tengah 1950-an. Ia membuka gerai pertama di 72 High Street dengan luas hanya 250 meter persegi, menamainya Metro terinspirasi dari studio film Hollywood, Metro-Goldwyn-Mayer (MGM). Strategi pemasaran awal pun berani: mengundang bintang film Hong Kong, Li Mei, meresmikan toko — menjadi ritel pertama di Singapura yang melakukannya.

Selama dua dekade pertama, Metro memposisikan diri sebagai surga kain dan busana impor untuk ibu-ibu rumah tangga kaya dari Singapura dan Indonesia. Kain renakis dari Prancis, bordir Swiss, dan linen Amerika jadi andalan. Berbeda dengan Robinsons yang melayani ekspatriat atau Tangs yang fokus warga lokal, Metro menggarap segmen pasar unik: pelanggan berdaya beli tinggi yang sering belanja dalam volume besar, banyak di antaranya kenalan bisnis Ong dari Indonesia.

Ekspansi masif terjadi di era 1970-an. Metro mendominasi Orchar Road dengan lima gerai sekaligus, termasuk Metro Grand di Lucky Plaza yang diklaim sebagai toko departemen "high-end" pertama di Singapura. Perusahaan pun go public di bursa Singapura pada 1973. Tak hanya ritel, Metro menyentuh properti melalui akuisisi tanah yang kemudian jadi Ngee Ann City — kini menara ikonik Takashimaya — di mana Metro memegang 27 persen saham sebelum menjualnya dengan untung besar pada 2003.

Kendati sempat diversifikasi ke konstruksi, distribusi merek mewah seperti Cartier dan Yves Saint Laurent, serta meluncurkan label busana sendiri Marissa, roda Metro mulai melambat di era digital. Gerai-gerai tutup beruntun sejak 2000-an: Centrepoint pada 2019, Compass Point, City Square Mall, hingga hanya tersisa Paragon dan Causeway Point pada 2015. Upaya adaptasi via toko online pada 2017 tak cukup menahan arus perubahan perilaku konsumen.

Bagi pengamat ritel Indonesia, kisah Metro menawarkan pelajaran krusial. Pendirinya adalah pengusaha Indonesia, dan pasar Indonesia pernah jadi basis pelanggan utamanya di awal berkembangnya bisnis. Kini, saat Metro Singapura memilih jadi pure-play properti dengan fokus pasar Australia, China, Indonesia, Singapura, dan Inggris, pertanyaannya: apakah model toko departemen konvensional masih relevan di era e-komers dan marketplace?

Di Indonesia, matahari toko departemen besar pun mulai terbenam. Matahari Department Store dan Ramayana mengalihkan fokus ke format specialty store dan omnichannel. Transaksi ritel fisik bergeser ke tenant-toko kecil di mal atau platform digital. Metro Singapura justru mundur lebih awal, memilih jadi landlord daripada retailer — strategi yang mirip dengan transformasi Lippo Group yang memisahkan bisnis mal (Lippo Malls) dari ritel (Matahari).

Analis ritel menilai keputusan Metro sebagai langkah rasional. "Biaya operasi toko departemen besar di lokasi prime seperti Paragon sangat tinggi, sementara margin ritel menipis," ujung pisau," ujar pengamat industri yang tidak ingin disebut nama. Dengan menjual properti dan mengelola aset sewa, Metro mengunci arus kas stabil tanpa beban stok dan tenaga kerja masif.

Meskipun demikian, kehadiran Metro selama 70 tahun meninggalkan jejak budaya. Bagi generasi baby boomer Singapura, Metro Orchar Road bukan sekadar belanja — tapi tempat bertemu, makan di kafetaria ikonik, dan merasakan "modernitas" pertama kali. Penutupan gerai Paragon, yang beroperasi sejak 2008, menutup akses fisik terakhir kenangan kolektif itu.

Saat ini, Metro Holdings mengklaim tetap berkomitmen pada ritel melalui divisi distribusi merek dan e-komers, namun skala sudah tak sebanding era kejayaan. Perusahaan kini mengelola portofolio properti komersial di lima negara, termasuk Indonesia melalui anak usaha di sektor perindustrian dan logistik. Fokus ke depan: pengembangan aset yang menghasilkan recurring income.

Kisah Metro mengingatkan bahwa tidak ada format bisnis yang abadi. Dari toko kain 250 meter persegi ke raksasa properti multinasional, transformasi Metro mencerminkan dinamika pasar yang tak kenal maaf. Bagi pelaku usaha Indonesia, pesan jelas: adaptasi atau mati — dan terkadang, berarti menjual "toko" untuk membeli "gedung".

Mengapa Ini Penting

Penutupan Metro menandakan akhir era toko departemen tradisional di Singapura, namun akarnya Indonesia — pendiri Ong Tjoe Kim bermula di Surabaya — membuat kisah ini relevan bagi pelaku usaha ritel di Tanah Air. Transformasi Metro dari retailer ke property player mengisyaratkan tren global: margin ritel fisik menipis, sedangkan aset properti memberikan cash flow stabil. Di Indonesia, Matahari dan Ramayana pun sudah menggeser model bisnis serupa. Bagi investor dan pengusaha lokal, kasus Metro jadi case study nyata: kapan harus bertahan di ritel operasional, dan kapan waktunya 'menjual toko, beli gedung'.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit