Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menaikkan tensi dengan Iran melalui ancaman militer terbuka. Ia menyatakan akan meluluhlantakkan Gunung Pickaxe, kompleks nuklir bawah tanah yang terletak di selatan Teheran dan dianggap sebagai salah satu fasilitas pertahanan paling kokoh di Republik Islam tersebut.
Pernyataan itu dilontarkan Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show. Menurutnya, situs tersebut diawasi ketat namun tidak menunjukkan aktivitas signifikan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa serangan terhadap Gunung Pickaxe akan dilancarkan dalam waktu dekat.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah rentetan serangan udara AS terhadap sasaran militer Iran berlangsung tiga malam berturut-turut. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang ketiga serangan pada Senin, menggunakan amunisi presisi untuk menghantam sistem pertahanan pantai, situs rudal, drone, dan kapabilitas laut Iran dalam operasi selama lima jam.
Iran membalas dengan melaporkan ledakan di berbagai lokasi selatan, termasuk pulau Kish, Qeshm, Abu Musa, serta kota Bandar Abbas dan Jam. Kantor berita resmi Iran menyebutkan tiga ledakan di Bandar Abbas, sementara televisi negara mencatat dua ledakan di Kish. Empat warga terluka di Omidiyeh, Khuzestan, akibat serangan yang menghanguskan tiga kapal di pelabuhan Kish.
Gunung Pickaxe sendiri bukan target dalam gelombang bombardir tersebut, namun keberadaannya menjadi simbol ketegangan yang lebih dalam. Konstruksi situs ini dimulai pada 2020. Tehran bersikeras bahwa fasilitas tersebut murni untuk perakitan dan manufaktur sentrifuga canggih, bukan pengayaan uranium tersembunyi.
Temuan intelijen AS menunjukkan hal lain. Al-Monitor melaporkan bahwa Tehran membangun fasilitas pengayaan uranium yang tidak dideklarasikan sebagai cadangan strategis program nuklirnya. Terowongan ganda yang digali ratusan meter di bawah batuan granit solid membuatnya kebal terhadap bom penembus bunker konvensional.
Bagi pembaca di Indonesia, konflik yang melibatkan Selat Hormuz ini memiliki dampak nyata. Harga minyak sudah menyentuh puncak satu bulan terakhir seiring memudarnya prospek pengiriman melalui selat vital tersebut. Kenaikan harga energi berujung pada biaya logistik lebih tinggi untuk impor komponen elektronik dan perangkat teknologi yang mayoritas dipasok melalui rute laut Timur Tengah.
Indonesia tidak memiliki program senjata nuklir, tetapi rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) seperti reaktor modular kecil tetap relevan. Ketegangan ini mengingatkan bahwa teknologi pengayaan uranium harus diawasi ketat. Di sisi lain, startup lokal penyedia solusi energi bersih dapat melihat peluang substitusi pasokan dari fosil yang volatil.
"Kami akan melenyapkan Gunung Pickaxe. Katakan pada orang Iran untuk bersiap," ucap Trump dalam wawancara tersebut. Ia menambahkan, "Kami mengawasi Pickaxe sangat dekat. Kami mungkin akan memberinya pukulan relatif segera." Retorika tersebut mempertegas bahwa opsi militer tetap di meja meski diplomatik belum tertutup.
Di sisi Iran, Korps Garda Revolusi Islam menuduh Washington membahayakan pasokan minyak global lewat serangan-serangannya. Teheran menyalahkan AS atas "kembalinya ketidakamanan" di kawasan. Media lokal seperti Fars dan Mehr terus mempublikasikan titik ledakan tanpa merinci kerusakan detail atau korban jiwa.
Kendati serangan meningkat, Trump masih menyisakan ruang untuk negosiasi. Di Oval Office, ia menyebut kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri perang "pasti mungkin". Washington pun kembali menerapkan blokade atas pelabuhan Iran, memperketat tekanan ekonomi sembari mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap benteng bawah tanah tersebut.
Ke depan, masyarakat global termasuk Indonesia akan memantau apakah ancaman terhadap Gunung Pickaxe sekadar manuver politik atau aksi nyata. Jika bom penembus bunker canggih dikerahkan, integritas fasilitas granit tersebut bakal jadi ujian bagi teknologi pertahanan Iran. Sementara itu, stabilitas Selat Hormuz tetap kunci bagi rantai pasok teknologi dunia.