Jakarta, CNN Indonesia – PT MRT Jakarta (Perseroda) mengumumkan penyelesaian pembangunan terowongan arah utara sepanjang sekitar 5,8 kilometer yang menghubungkan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta hingga Stasiun Kota. Pencapaian ini menandai integrasi Fase 1 dan Fase 2A jalur utara-selatan, sekaligus menjadi tonggak sejarah bagi industri konstruksi sipil di Indonesia.
Terowongan tersebut mencapai titik balik penting ketika mesin bor terowongan nomor 1 berhasil menembus sisi selatan Stasiun Mangga Besar. Mesin ini beroperasi di paket kontrak CP202, yang membentang dari Harmoni hingga Mangga Besar, serta menghubungkan terowongan sepanjang 800 meter antara Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar. Kedalaman terowongan di titik ini mencapai 28 meter di bawah permukaan tanah, menjadikannya terowongan kereta bawah tanah terdalam di Indonesia, setara dengan kedalaman terowongan di Stasiun Sawah Besar.
Proses pembangunan memanfaatkan tiga mesin bor terowongan yang bekerja sesuai paket kontrak masing-masing. CP201 membangun terowongan dari Bundaran HI Bank Jakarta menuju Harmoni, CP202 dari Harmoni menuju Mangga Besar, dan CP203 dari Mangga Besar menuju Kota. Koordinasi yang baik dan perencanaan matang menjadi kunci keberhasilan penyelesaian penggalian sesuai target waktu.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antar pihak terkait dan mencerminkan kemampuan teknis yang tinggi. "Capaian ini tidak hanya mempercepat jadwal konstruksi, tetapi juga membuktikan bahwa Indonesia mampu mengerjakan proyek infrastruktur bawah tanah berskala besar," ujarnya.
Saat ini, progres pembangunan Fase 2A jalur utara-selatan telah mencapai 61,8 persen per 25 Juni 2026. Seluruh terowongan fase 2A ditargetkan rampung pada kuartal IV tahun 2026, dengan operasional sebagian segment (Bundaran HI–Monas) direncanakan pada akhir 2027 dan segment hingga Kota pada akhir 2029. Tim konstruksi dan kontraktor saat ini fokus pada pembangunan terowongan arah selatan dari Kota menuju Bundaran HI.
Penyelesaian terowongan terdalam ini berdampak luas bagi Jakarta. Terowongan bawah tanah yang lebih dalam memungkinkan penempatan jalur di area yang lebih padat tanpa mengganggu permukaan, mengurangi gangguan lalu lintas, dan membuka ruang bagi pengembangan transportasi multimoda. Selain itu, proyek ini menjadi bukti kemampuan rekayasa lokal dalam menghadapi tantangan geologi perkotaan.
Bagi industri, pencapaian ini membuka peluang bagi investasi lebih lanjut pada teknologi bor mutakhir dan sumber daya manusia ahli. Ini juga menjadi acuan bagi proyek-proyek infrastruktur bawah tanah di kota-kota besar lain di Indonesia, seperti Surabaya dan Makassar, yang merencanakan jaringan kereta api bawah tanah. Keberhasilan ini memperkuat posisi Jakarta sebagai kota pintar yang mengutamakan mobilitas berkelanjutan.
Ke depannya, integrasi terowongan ini akan mendukung operasional MRT yang lebih lancar dan meningkatkan kapasitas Angkutan Massal Berbasis Rel (AMBR) di ibu kota. Dengan jadwal yang tetap pada jalur, masyarakat dapat berharap pada pengurangan kemacetan dan waktu tempuh yang lebih singkat dalam beberapa tahun mendatang.