Internasional

Nanning Terapkan Status Siaga Tertinggi Akibat Banjir Bandang Topan Maysak

Nanning Terapkan Status Siaga Tertinggi Akibat Banjir Bandang Topan Maysak

Ringkasan

  • Nanning menaikkan status siaga banjir ke level tertinggi menyusul curah hujan ekstrem yang dibawa Topan Maysak di wilayah Guangxi, China.

Pemerintah kota Nanning, ibu kota wilayah otonom Guangxi, China, resmi meningkatkan status tanggap darurat pengendalian banjir ke level I, yakni level tertinggi, menyusul curah hujan ekstrem yang dipicu oleh Topan Maysak. Langkah drastis ini diambil setelah otoritas setempat mendeteksi peningkatan debit air yang signifikan pada sungai dan waduk di seluruh wilayah tersebut, yang mengancam keselamatan jutaan penduduk.

Topan Maysak, yang sebelumnya melanda provinsi Hainan dan Vietnam, kini telah melemah menjadi badai tropis. Meskipun kecepatan anginnya telah berkurang drastis di bawah 80,5 km/jam, para ahli meteorologi China memperingatkan bahwa ancaman sesungguhnya justru berasal dari curah hujan tinggi yang dibawa badai tersebut. Air yang terserap dari Laut China Selatan kini tumpah ke wilayah daratan, memicu banjir katastropik di berbagai titik.

Laporan dari kantor berita Xinhua menyebutkan bahwa sebuah waduk berukuran sedang di Hengzhou, Nanning, mengalami keretakan pada tanggulnya. Sebagai langkah mitigasi, pihak berwenang telah memulai proses evakuasi warga di sekitar lokasi untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. Situasi di lapangan dilaporkan sangat kritis dengan aksesibilitas yang terbatas akibat luapan air.

Di kota Guigang, sekitar 273,6 kilometer dari Nanning, dampak badai terlihat sangat jelas. Rekaman video di media sosial menunjukkan jalanan utama berubah menjadi sungai, menenggelamkan kendaraan, dan menghantam lokasi konstruksi dengan arus cokelat yang deras. Stasiun Hidrologi Guigang mencatat ketinggian air telah mencapai 42 meter pada Senin siang, sebuah angka yang melampaui batas aman.

Kondisi serupa terjadi di Fangchenggang, di mana rekaman visual memperlihatkan kendaraan terseret arus banjir. Dalam satu insiden, ketinggian air mencapai kemudi mobil, sementara seorang warga terlihat berjuang keras menyelamatkan sepeda listriknya agar tidak hanyut terbawa banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba.

Fenomena cuaca ekstrem ini kembali menyoroti kerentanan China terhadap perubahan iklim. Para analis memperingatkan bahwa intensitas cuaca ekstrem yang meningkat setiap tahun dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga puluhan miliar dolar, mulai dari kelumpuhan aktivitas industri hingga kehancuran sektor pertanian akibat lahan yang terendam banjir.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengenai urgensi mitigasi bencana dan ketahanan infrastruktur terhadap perubahan iklim. Dampak ekonomi dari cuaca ekstrem yang melumpuhkan rantai pasok global dapat memengaruhi stabilitas harga komoditas dan aktivitas perdagangan internasional di kawasan.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit