Natalia Tjahja, seorang pegiat para-atlet asal Indonesia, mencatatkan namanya dalam daftar tokoh yang diapresiasi oleh Presiden Komite Paralimpiade Internasional (IPC) Andrew Parsons. Pengakuan tersebut diberikan atas inisiatifnya mempelopori gerakan 100 Celebrities Talk for Para Athletes (100 CTFP) bersama Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF). Gerakan sosial ini berfokus pada pendorongan inklusi bagi atlet penyandang disabilitas melalui narasi kesetaraan dan peran olahraga dalam meruntuhkan stigma sosial.
Keberhasilan Natalia membawa kampanye tersebut ke tingkat dunia menjadikannya satu-satunya figur non-atlet dan non-pejabat olahraga yang masuk dalam jajaran tokoh paralimpik internasional yang mendapat penghargaan dari IPC. Pencapaian ini cukup mencolok lantaran para penerima apresiasi lainnya umumnya berasal dari kalangan atlet peraih medali, pimpinan organisasi olahraga, hingga pejabat pemerintahan negara masing-masing.
Lahir dari keprihatinan terhadap minimnya ruang representasi bagi atlet disabilitas, gerakan 100 CTFP awalnya hanyalah sebuah pesan sederhana berupa dukungan moral. Natalia bersama MMLWF melihat bahwa olahraga memiliki kekuatan transformatif untuk mengubah pandangan masyarakat yang kerap meminggirkan penyandang disabilitas. Dari sana, kampanye ini bertransformasi menjadi gerakan lintas batas yang mempersatukan berbagai elemen masyarakat.
Peluncuran resmi 100 CTFP dilakukan di Singapura melalui kolaborasi strategis dengan sejumlah institusi besar. ASEAN Para Sports Federation (APSF), Singapore Disability Sports Council (SDSC), NPC Singapura, serta Ital Auto Ferrari Singapore turut menjadi bagian dari momentum awal tersebut. Dukungan juga mengalir dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dan Ferrari Owners Club Singapore, yang memperlihatkan sinergi diplomatik dan komunitas dalam isu inklusi.
Visi yang diusung gerakan ini selaras dengan misi besar IPC di bawah kepemimpinan Andrew Parsons, yang membawahi 185 Komite Paralimpiade Nasional (NPC) di seluruh dunia. Parsons menilai bahwa inisiatif warga sipil semacam ini krusial untuk membangun ekosistem olahraga yang benar-benar inklusif. Hal itulah yang mendorongnya tidak sekadar memberikan apresiasi, tetapi juga menyuarakan pesan 100 CTFP di berbagai forum internasional.
Bagi Indonesia, pengakuan internasional terhadap Natalia membuka mata pentingnya peran warga sipil dalam memajukan isu disabilitas, tidak melulu bergantung pada kebijakan pemerintah atau prestasi atlet di arena kompetisi. Selama ini, narasi olahraga disabilitas di tanah air kerap terpusat pada ajang seperti Peparnas atau ASEAN Para Games, tanpa banyak ruang diskursus sosial yang melibatkan tokoh lintas sektor. Kehadiran 100 CTFP menunjukkan bahwa filantropi dan kampanye berbasis komunitas mampu menjadi katalis perubahan sosial yang masif.
Dampaknya pun telah melampaui batas negara. Hingga saat ini, 100 CTFP telah menggaet 637 tokoh internasional dari berbagai latar belakang, mulai dari olahraga, pemerintahan, bisnis, musik, budaya, hingga filantropi. Jaringan luas ini membuktikan bahwa isu inklusi atlet disabilitas bukan sekadar agenda olahraga, melainkan juga isu hak asasi dan pembangunan manusia yang mendapat resonansi global.
Di sisi lain, pencapaian Natalia juga menjadi cermin bagi ekosistem olahraga Indonesia untuk terus mengevaluasi ruang partisipasi masyarakat sipil. Meskipun prestasi atlet disabilitas Tanah Air di kancah internasional terus meningkat, dukungan struktural dari kalangan non-olahraga masih tergolong terbatas. Gerakan yang digawangi Natalia ini bisa menjadi blueprint bagi pegiat lokal lainnya untuk menjalin kemitraan lintas negara guna memperkuat posisi Indonesia dalam peta jalan inklusi global.
"Apa yang dimulai sebagai pesan sederhana berupa dukungan telah berkembang menjadi gerakan dunia yang membawa nilai kasih, inklusi, dan harapan," ujar Natalia dalam keterangannya. Ia menegaskan bahwa setiap dukungan dari berbagai pihak memperkuat keyakinan bahwa olahraga dapat menjadi sarana mempersatukan masyarakat dan menciptakan perubahan sosial yang nyata.
Parsons sendiri menuturkan rasa bangganya terhadap langkah yang diambil oleh Natalia. "Sebuah kehormatan dapat mendukung 100 CTFP dan Maria Monique Last Wish Foundation karena visi kami sama dengan visi IPC," ucap Presiden IPC tersebut. Pengakuan serupa juga diberikan kepada sejumlah tokoh lain seperti Carla Qualtrough dan Karen O’Neil dari Kanada, Deepa Malik dari India, serta Zakia Khudadadi dari Afganistan, yang menempatkan Natalia sejajar dengan nama-nama besar di level internasional.
Ke depan, ekspansi gerakan 100 CTFP diproyeksikan akan semakin menguat dengan masuknya lebih banyak tokoh berpengaruh dari kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Kolaborasi yang telah terjalin di Singapura menunjukkan bahwa diplomasi olahraga berbasis masyarakat sipil memiliki daya jangkau yang efektif untuk memobilisasi dukungan korporasi dan negara.
Tren kampanye inklusi yang digawangi oleh individu non-pejabat seperti Natalia juga diperkirakan akan memicu lahirnya gerakan serupa di negara berkembang. Dengan dukungan penuh dari Parsons yang secara rutin menyuarakan isu ini di forum IPC, visi kesetaraan atlet disabilitas tidak lagi berjalan di pinggiran, melainkan menjadi arus utama dalam agenda olahraga dunia.