Internasional

Negara Bagian AS Gugat Merger Paramount-Warner Khawatirkan Nasib Bioskop Lokal

Ringkasan

  • Sebelas negara bagian AS dipimpin California menggugat merger Paramount-Warner Bros karena khawatir menekan bioskop lokal dan menaikkan tagihan kabel pada Senin (14/7).

Pada konferensi pers Senin (14/7) di depan tulisan Hollywood, Jaksa Agung California Rob Bonta memimpin gugatan yang diajukan bersama 11 negara bagian lainnya untuk menghentikan akuisisi Paramount oleh Warner Bros Discovery. Mereka menilai penggabungan dua distributor film mayoritas itu akan merugikan bioskop lokal yang masih berjuang mendongkrak penjualan tiket pasca-pandemi.

Bonta memperingatkan bahwa harga tiket kemungkinan besar akan naik, sementara pemilik bioskop terpaksa memangkas investasi yang selama ini memperbaiki pengalaman penonton, seperti kursi lebih nyaman, jajanan lebih beragam, dan layar premium. Jika merger selesai, entitas baru menguasai lebih dari 27 persen pangsa pasar bioskop dan televisi kabel dasar di Amerika Serikat.

Gugatan tersebut secara resmi didaftarkan oleh California bersama Oregon, New York, Minnesota, dan delapan negara bagian lainnya. Dokumen keluhan menyebutkan bahwa penggabungan ini menyatukan dua dari lima distributor film utama nasional sekaligus mempertebal konsentrasi kepemilikan jaringan televisi kabel. Kondisi itu diprediksi memberi leverage tawar-menawar tidak adil terhadap pemilik bioskop dan operator pay-TV.

Dengan menyusutnya jumlah distributor, studio bisa dengan mudah menekan pemilik bioskop agar menyerahkan porsi pendapatan tiket lebih besar. Tradisinya, studio dan bioskop membagi hasil penjualan tiket secara merata, namun untuk film blockbuster studio bisa mengambil hingga 60 persen. Penyusutan kompetisi juga membuat penyedia kabel kehilangan daya tawar atas biaya saluran.

Negara bagian penggugat menyoroti dampak merger serupa di masa lalu. Akuisisi aset hiburan Fox oleh Disney pada 2019 disebut telah melukai industri. Data dalam gugatan menunjukkan Disney dan Fox merilis 112 film layar lebar pada 2015–2018, namun angka itu anjlok menjadi hanya 54 film untuk periode 2022–2025. Konsolidasi sebelumnya sudah mengurangi variasi konten di layar bioskop.

Dampak dari gugatan ini melampaui batas AS. Di Indonesia, jaringan bioskop seperti CGV, Cinépolis, dan XXI sangat bergantung pada film impor dari studio Hollywood untuk menarik penonton. Apabila distributor global menguasai pangsa pasar lebih besar dan menaikkan biaya sewa film, operator lokal terpaksa menanggung beban atau meneruskan kenaikan ke konsumen.

Industri bioskop Tanah Air juga sedang dalam fase pemulihan. Penerimaan box office domestik belum sepenuhnya menyamai level 2019, sementara tekanan layanan streaming semakin kuat. Untuk bersaing, pengelola bioskop Indonesia telah mengupgradasi fasilitas dengan kursi recliner dan variasi kuliner, persis seperti strategi di AS. Jika margin tergerus, rencana perbaikan tersebut bisa tertunda.

Kendati demikian, struktur pasar di Indonesia berbeda karena dominasi pemilik tunggal pada beberapa jaringan besar, sehingga ruang tawar dengan studio asing mungkin lebih terpusat. Namun, konsumen akhir tetap berisiko menanggung harga tiket lebih mahal bila efisiensi biaya distribusi global berubah. Tren konsolidasi media global patut diawasi pelaku industri hiburan lokal.

Paramount, yang dipimpin CEO David Ellison, menolak argumen tersebut. Perusahaan menyatakan gugatan itu mendistorsi hukum antitrust yang sudah mapan dan salah menggambarkan persaingan industri hiburan. "Penundaan transaksi hanya akan merugikan pekerja hiburan yang selama beberapa tahun terakhir terdampak disrupsi teknologi dan membuat California kehilangan puluhan ribu lapangan kerja," bunyi pernyataan resmi Paramount.

Di sisi lain, Cinema United, kelompok perdagangan pemilik bioskop yang melobi penolakan merger, menyambut gugatan tersebut. Presiden dan CEO Michael O'Leary menegaskan bahwa konsolidasi studio akan berdampak signifikan dan lestari tidak hanya di Hollywood, tetapi juga di jalanan kota-kota kecil yang menjadikan bioskop sebagai pilar budaya dan finansial. Seorang eksekutif rantai bioskop independen yang enggan disebut namanya khawatir bioskop tidak punya recourse bila biaya sewa film naik.

Penundaan merger membawa konsekuensi finansial besar bagi Paramount. Ellison telah menyetujui pembayaran "ticking fee" 25 sen per saham kepada pemegang saham Warner Bros Discovery, setara 650 juta dolar AS per kuartal, apabila kesepakatan tidak rampung sebelum Oktober. Dana tersebut mengalir keluar setiap tiga bulan selama proses hukum berlangsung.

Ke depan, pengadilan akan menentukan nasib penggabungan yang juga menggabungkan layanan streaming Paramount+ dan HBO Max, aspek yang tidak digugat dalam keluhan. Data Rentrak mencatat penerimaan box office AS dan Kanada tahun berjalan 2026 mencapai 5,1 miliar dolar, naik 10,6 persen dari tahun lalu namun masih 16,3 persen di bawah level 2019. Konsolidasi media tampaknya akan terus menguji batas persaingan sehat di era hiburan digital.

Mengapa Ini Penting

Konsolidasi studio Hollywood berdampak langsung pada rantai pasok film di Indonesia karena mayoritas tayangan bioskop kita berasal dari AS. Bila biaya distribusi global naik, ruang bagi film lokal untuk bersaing justru bisa terbuka lebar seiring berkurangnya jumlah rilis film impor, mirip efek akuisisi Disney-Fox. Otoritas persaingan usaha dalam negeri seperti KPPU dapat mengambil pelajaran dari aggressivitas regulator AS dalam melindungi pelaku kecil. Masyarakat Indonesia pada akhirnya berisiko menanggung kenaikan harga tiket hiburan jika efisiensi pasar terganggu.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit