Pemerintah Norwegia secara resmi mengumumkan kebijakan baru yang membatasi penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan sekolah. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk memprioritaskan metode pembelajaran tradisional serta memastikan siswa tetap menguasai fondasi akademik yang mendasar tanpa ketergantungan berlebih pada perangkat digital.
Implementasi kebijakan ini dilakukan secara bertahap dengan pendekatan berbasis tingkatan usia dan jenjang pendidikan. Bagi siswa sekolah dasar kelas satu hingga tujuh, pemerintah menetapkan larangan hampir menyeluruh terhadap penggunaan alat berbasis AI. Hal ini bertujuan agar anak-anak pada usia tersebut dapat mengembangkan kemampuan kognitif dasar, literasi, dan numerasi secara mandiri sebelum terpapar pada teknologi yang lebih kompleks.
Untuk jenjang sekolah menengah pertama, kebijakan yang diterapkan bersifat lebih moderat. Siswa di jenjang ini diizinkan untuk berinteraksi dengan alat AI, namun dengan catatan harus berada di bawah pengawasan ketat guru di dalam kelas. Pendekatan ini dirancang agar guru tetap memegang kendali atas proses belajar-mengajar sekaligus meminimalisir risiko penyalahgunaan teknologi dalam mengerjakan tugas sekolah.
Sementara itu, bagi siswa di jenjang sekolah menengah atas, pemerintah memberikan fleksibilitas yang lebih besar. Meskipun demikian, mereka tetap didorong untuk menggunakan kecerdasan buatan hanya pada situasi yang benar-benar relevan dan tepat guna. Kebijakan ini bertujuan untuk membekali siswa dengan literasi digital yang dewasa sebelum mereka memasuki dunia pendidikan tinggi atau dunia kerja.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya nasional yang lebih luas di Norwegia untuk mengurangi gangguan digital serta ketergantungan pada layar di lingkungan pendidikan. Sebelumnya, Norwegia telah menerapkan pelarangan penggunaan ponsel pintar di dalam ruang kelas dan sedang mengupayakan kebijakan batas usia minimal 16 tahun untuk penggunaan media sosial guna menjaga kesehatan mental remaja.
Sebagai langkah pendukung dari transisi ini, pemerintah Norwegia berencana untuk meningkatkan alokasi pendanaan bagi pengadaan buku teks fisik. Langkah ini sekaligus membalikkan tren sebelumnya yang sempat mengedepankan digitalisasi penuh dengan memberikan tablet kepada setiap siswa. Dengan kembali ke buku cetak, pemerintah berharap kualitas konsentrasi dan pemahaman mendalam siswa dapat kembali ditingkatkan secara signifikan.