Teknologi

Obsesi Parfum Mendorong Mahasiswa Ciptakan Arcade 6 Game dan Concierge Berbasis AI

Ringkasan

  • Mahasiswa internasional membangun arcade enam game dan concierge AI untuk penggemar parfum, menggunakan Gemini API dengan model kunci pengguna.

Seorang mahasiswa bernama Ibrahim memiliki kegemaran yang melampaui batas wajar terhadap parfum. Apa yang bermula dari pemberian attar Timur Tengah murah yang harganya tak sampai secangkir kopi, perlahan berubah menjadi koleksi sekitar 20 botol di raknya. Ibrahim merupakan bagian dari komunitas penggemar fragrance yang tidak sekadar memakai wangi, tetapi mempelajari piramida nota, akord, hingga daya sebar (sillage). Obsesi ini mencerminkan tren global di mana hobi khusus menjadi identitas dan ajang diskusi mendalam bagi kaum muda, termasuk di Indonesia yang mulai mengapresiasi parfum Timur Tengah dan desainer lokal.

Ketika tantangan akhir pekan DEV Weekend Challenge mengangkat tema 'Passion', Ibrahim tidak ragu memilih obsesinya sebagai bahan bangunan. Ia menciptakan recommendmeafragrance, sebuah arcade berbasis peramban yang menyajikan enam permainan harian seputar data parfum nyata. Proyek ini lahir bukan dari motif komersial besar, melainkan sebagai ekspresi kreatif sekaligus portofolio teknis seorang pelajar yang mendanai sendiri lewat tabungan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana hackathon komunitas menjadi inkubator bagi ide-ide mikro yang mengawinkan hobi dan pemrograman.

Platform tersebut tidak sekadar kumpulan game, tetapi dilengkapi rak pribadi (shelf) yang mencatat parfum yang ditemukan pengguna serta sistem streak untuk memikat kembali keesokan hari. Setiap game menggunakan data nyata seperti nota, merek, tahun rilis, dan tier harga, sehingga pemain mendapat edukasi tentang industri wangi-wangian. Pendekatan gamifikasi ini selaras dengan psikologi modern di mana elemen harian seperti Wordle sukses mempertahankan pengguna melalui kebiasaan ringan.

Game pertama, Scentle, merupakan variasi Wordle untuk penciuman. Setiap hari satu parfum dipilih secara global; pemain memiliki enam tebakan dengan umpan balik soal kesesuaian merek, tahun, harga, gender, dan berbagi nota. Tersedia mode Mudah dan Sulit untuk menyesuaikan populasi botol terkenal atau katalog dalam. Sementara itu, Note Detective menjadi favorit pencipta: pemain harus menerka parfum hanya dari nota yang dibuka satu per satu secara berputar, dengan biaya poin proporsional jumlah nota agar adil.

Selanjutnya, Build-a-Bottle membiarkan pengguna meracik nota sendiri lalu mencocokkan dengan katalog via similaritas berbobot, di mana nota dasar mendapat bobot ekstra. Ada pula Higher or Lower yang menguji pengetahuan kronologi atau harga, Scent Roulette dengan filter musim dan suasana, serta Blind Date yang menyembunyikan merek untuk menguji selera murni. Keenam game dirancang modular namun saling mengisi dalam membangun profil kolektor virtual.

Bagian yang paling menonjol secara teknis adalah Concierge berbasis kecerdasan buatan yang berperan sebagai maskot aplikasi. Concierge tidak sekadar menyodorkan rekomendasi, tetapi bertanya balik secara hangat seperti ingin wangi hangat untuk malam dingin. Implementasinya memanfaatkan Google AI, khususnya Gemini, dengan strategi anggaran harian bersama agar semua pengguna dapat mencoba gratis. Namun, Ibrahim menyisipkan opsi bring your own key (BYO) di mana pengguna menyisipkan API key Gemini gratis dari Google AI Studio.

Kunci API tersebut disimpan hanya di penyimpanan lokal peramban pengguna dan tidak pernah menyentuh server aplikasi, sehingga privasi terjaga dan beban biaya AI beralih ke pengguna. Model ini sangat relevan bagi developer pelajar di negara berkembang seperti Indonesia, di mana subsidi infrastruktur cloud tidak mungkin dilakukan tanpa batas. Ini juga demonstrasi praktik keamanan sisi klien yang baik, menghindari kendala regulasi penyimpanan rahasia API.

Seluruh katalog lebih dari seribu parfum terhubung ke penawaran langsung melalui FragranceShop.com, sehingga setiap temuan dapat dibeli secara nyata. Integrasi e-commerce afiliasi ini memberikan nilai guna pada aplikasi selain sekadar trivia, sekaligus membuka peluang monetisasi halus bagi pembuatnya. Bagi pembaca Indonesia, pola ini mengingatkan pada potensi pasar lokal rempah dan parfum Nusantara yang belum dilayani secara gamifikasi.

Secara lebih luas, proyek Ibrahim adalah cermin dari demokratisasi pengembangan perangkat lunak: seorang individu dengan keterbatasan dana mampu melahirkan produk berfitur lengkap berkat API modern dan pola pikir sumber terbuka. Ini menginspirasi mahasiswa teknologi di Tanah Air untuk tidak menunggu inkubator formal, melainkan membangun dari passion dan memanfaatkan layanan gratis secara cerdas. Ke depan, kolaborasi serupa antara budaya hobi dan AI ringan akan memperkaya ekosistem digital lokal.

Mengapa Ini Penting

Proyek ini menunjukkan cara efektif bagi developer pemula di Indonesia untuk membangun aplikasi berbasis AI tanpa menanggung biaya server melalui model kunci API sisi klien. Gamifikasi hobi khusus seperti parfum membuka ceruk pasar digital yang belum padat, sekaligus mendorong literasi teknologi lewat proyek portofolio mandiri. Ke depan, pendekatan serupa dapat diaplikasikan pada komoditas lokal seperti kopi atau rempah, menghubungkan warisan budaya dengan ekosistem teknologi nasional.

Sumber Asli
Internasional
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit