Indeks S&P 500 ditutup pada level 7.700 untuk pertama kalinya dalam sejarah pada Selasa (5/8/2026), naik 1,8 persen setelah investor menyambut sinyal positif pembukaan kembali Selat Hormuz. Wall Street terdorong oleh kombinasi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gelombang laporan laba emiten yang melampaui ekspektasi.
Dow Jones Industrial Average juga mencatat rekor untuk hari kedua beruntun, menguat 1,7 persen ke posisi 54.085,88. Indeks acuan S&P 500 kini telah mengumpulkan kenaikan 12,8 persen sepanjang tahun ini, lebih tinggi dari rata-rata historis sekitar 10,5 persen.
Salah satu pendorong utama adalah Palantir Technologies, perusahaan analitik data yang erat kaitannya dengan sektor pertahanan AS dan Israel. Sahamnya melesat 29,5 persen setelah membukukan pendapatan kuartal kedua sebesar 1,94 miliar dolar AS, melampaui perkiraan analis.
Optimisme pasar tidak muncul dari ruang hampa. Pemerintah AS dan Iran sama-sama mengisyaratkan kemajuan negosiasi lewat perantara Oman untuk memulihkan arus pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan belum tercapai, tetapi berharap bisa diumumkan segera. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan memperkirakan kesepakatan bisa tercapai Selasa atau Rabu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut pembicaraan dengan Oman mengenai rute aman bagi kapal sebagai langkah positif. Ia menegaskan Iran tetap pada pendiriannya bahwa mereka memiliki hak untuk mengontrol lalu lintas di perairan tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz sudah berlangsung sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari. Jalur air yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu nyaris lumpuh. Data MarineTraffic menunjukkan hanya sembilan kapal yang melintas pada Minggu lalu, dibandingkan sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik.
Aksi jual minyak menjadi respons paling cepat. Harga Brent untuk kontrak Oktober sempat berada di 79,11 dolar AS per barel, turun sekitar 5 persen dalam semalam dan 13 persen dalam sepekan. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi global yang memuncak akibat gangguan pasokan energi.
Pasar Asia ikut bergairah. Nikkei 225 di Tokyo melonjak 3 persen pada Rabu pagi, sementara Kospi di Seoul menguat 4,6 persen. Sentimen ini merambat ke seluruh kawasan, termasuk Indonesia, meski IHSG baru akan bereaksi saat perdagangan dibuka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar kabar baik bagi investor saham. Penurunan harga minyak berpotensi menekan biaya impor energi, memperbaiki neraca perdagangan, dan menjaga inflasi tetap terkendali. Stabilitas Selat Hormuz juga berarti rantai pasok minyak mentah dan gas ke dalam negeri tidak lagi terancam gangguan serius.
Namun demikian, kesepakatan masih belum final. AS masih menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara militer AS menyatakan selat tersebut bebas dan terbuka bagi semua kapal dagang. Komando Pusat AS mengklaim telah membantu lebih dari 1.000 kapal melakukan transit dalam tiga bulan terakhir.
Eskalasi bisa terjadi kapan saja jika negosiasi gagal. Jika itu terjadi, harga minyak berpotensi melonjak kembali dan pasar saham global akan terjungkal. Investor Indonesia, terutama yang memegang saham energi dan perbankan, perlu mencermati perkembangan negosiasi dalam beberapa hari ke depan.
Jika kesepakatan benar-benar terealisasi, ruang fiskal pemerintah akan lebih longgar. Subsidi energi bisa ditekan tanpa harus menaikkan harga BBM di dalam negeri. Pada akhirnya, stabilitas harga minyak adalah kunci bagi perekonomian Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.
Dengan posisi S&P 500 yang sudah sangat tinggi, sebagian pelaku pasar mulai bertanya-tanya apakah reli ini masih berkelanjutan. Jawabannya sangat bergantung pada satu hal: apakah Selat Hormuz benar-benar kembali aman dalam waktu dekat.