Vatikan secara resmi mengumumkan jadwal kunjungan pastoral Paus Leo XIV ke tiga negara Amerika Selatan pada Rabu (5/8/2026). Perjalanan 12 hari tersebut akan dimulai dari Montevideo, Uruguay, pada 6 November, lalu melanjutkan ke Argentina 8-11 November, dan diakhiri di Peru 11-17 November. Ini menjadi kunjungan internasional ke-12 bagi paus kelahiran Chicago ini sejak terpilih pada Mei 2025, menandakan prioritasnya pada gereja di benua selatan.
Peru menempati posisi khusus dalam itinerary ini. Paus Leo XIV, nama lahirnya Robert Prevost, pertama kali tiba di negara Andes tersebut pada 1985 saat berusia 30 tahun. Selama tiga dekade, ia bolak-balik antara Amerika Serikat dan Peru sebagai misionaris Ordo Augustinian. Pada 2014, Paus Fransiskus menunjuknya jadi Uskup Keuskupan Chiclayo di utara Peru. Setahun kemudian ia memperoleh kewarganegaraan Peru dan memimpin keuskupan hingga 2023. Saat terpilih jadi paus, ia menyapa umat Chiclayo dalam sambutan pertamanya — dan kota itu merayakannya sebagai "papa chiclayano", paus pertama dari Chiclayo.
Kunjungan ke Argentina sarat simbolisme sejarah. Paus Fransiskus, pendahulu Leo XIV, lahir di Buenos Aires namun tidak pernah kembali ke tanah airnya selama 12 tahun kepausannya, meski menerima undangan berulang dari beberapa presiden. Leo XIV akan menjadi paus pertama yang menginjak Argentina sejak Yohanes Paulus II pada 1987 — selang hampir 40 tahun. Ia dijadwalkan berkunjung ke Buenos Aires, Cordoba, dan Lujan, tempat gereja terbesar di negara tersebut.
Bagian Uruguay yang relatif singkat (6-8 November) mencakup Montevideo, Paysandu, dan Florida. Meskipun Uruguay dikenal sebagai negara paling sekuler di Amerika Latin, mayoritas pendudumnya tetap beridentitas Katolik. Kunjungan ini diharapkan memperkuat kehadiran gereja di tengah arus sekularisasi yang kuat.
Di Peru, jadwal padat menunggu: Lima, Chiclayo, Cusco, hingga Pucallpa di hutan hujan Amazon. Kembalinya ke Chiclayo diprediksi jadi momen paling emosional. Ribuan warga pernah berkumpul di alun-alun kota saat konklave 2015 lalu, merayakan kelahiran paus "mereka". Sekarang mereka akan menyambutnya secara langsung sebagai pemimpin 1,4 miliar Katolik dunia.
Latar belakang kunjungan ini tidak terlepas dari tantangan besar Gereja Katolik di wilayah ini. Data Pew Research Center 2013 menunjukkan 39 persen Katolik dunia tinggal di Amerika Latin dan Karibia. Namun survei Latinobarometro 2024 mencatat porsi penduduk yang mengaku Katolik anjlok dari 80 persen (1995) menjadi 54 persen. Sebaliknya, aliran Kristen Protestan/Evangelikal tumbuh pesat, menarik umat muda dan kelas menengah bawah.
Paus Leo XIV tampak sadar urgensi ini. Sejak terpilih, ia mempercepat jadwal perjalanan internasional. Sebelum Amerika Selatan, ia akan ke Prancis 25-28 September — kunjungan pertama ke negara tersebut sebagai paus. Awal tahun ini ia sudah mengunjungi empat negara Afrika serta Spanyol. Pola perjalanan ini mengisyaratkan fokus pastoral pada "periferi" gereja, warisan dari era Paus Fransiskus.
Bagi umat Katolik Indonesia, kunjungan ini relevan meski geografis jauh. Indonesia memiliki populasi Katolik ketiga terbesar di Asia setelah Filipina dan India, dengan sekitar 8,5 juta umat (data BPS 2020). Dinamika serupa — sekularisasi di perkotaan, pertumbuhan aliran lain, dan perlunya penginjilan baru — juga terjadi di NTT, Papua, dan Jakarta. Respons Paus Leo XIV di Amerika Latin bisa jadi referensi pastoral bagi keuskupan di Indonesia.
Jadwal detail lengkap termasuk misa, pertemuan dengan pemerintah, dan dialog interagama akan dirilis Vatikan beberapa minggu sebelum keberangkatan. Di Peru, pertemuan dengan komunitas asli Amazon di Pucallpa diperkirakan menyoroti isu lingkungan dan hak adat — topik yang dekat dengan hati paus sejak era Amazon Synod 2019.
Observator Vatikan menilai kunjungan ini juga uji coba diplomasi Paus Leo XIV. Argentina menghadapi krisis ekonomi dan polarisasi politik. Uruguay stabil tapi sekuler. Peru baru pulih dari ketidakstabilan politik 2022-2023. Kehadiran paus sebagai tokoh moral netral diharapkan menenangkan dan menyatukan, bukan memecah.
Sejarah mencatat Yohanes Paulus II mengunjungi Argentina 1987 saat negara baru pulih dari junta militer. Sekarang Leo XIV tiba saat Argentina mencari identitas pasca-krisis. Paralel ini tak luput perhatian analis. Jika Yohanes Paulus II jadi simbol harapan transisi demokrasi, Leo XIV dipandang sebagai jembatan antara tradisi dan reformasi gereja.
Langkah selanjutnya: Vatikan akan mengirim tim persiapan ke ketiga negara bulan September. Koordinasi keamanan, logistik ribuan jemaat, dan siaran langsung global sudah dimulai. Bagi umat Katolik dunia, November 2026 akan jadi momen mengukap seberapa jauh gereja mampu berbicara bahasa zaman — di benua yang pernah jadi bentengnya, kini jadi medan uji paling ketat.