Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap skuadnya. Kekecewaan ini disampaikan langsung setelah Iran bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga Piala Dunia yang berlangsung di Seattle, Jumat lalu.
Sepanjang fase grup, timnas Iran diwajibkan untuk pulang-pergi dari Meksiko menuju Amerika Serikat guna melakoni tiga pertandingan grup mereka. Meskipun menghadapi kendala logistik yang berat, Iran tetap mampu tampil kompetitif dan sempat memiliki peluang untuk memuncaki grup sebelum laga melawan Mesir.
Amerika Serikat sebenarnya telah melonggarkan aturan perjalanan bagi skuad Iran untuk pertandingan hari Jumat, dengan mengizinkan mereka tiba di wilayah Seattle dua hari lebih awal. Namun, bagi Ghalenoei, kebijakan tersebut masih jauh dari kata adil dan sangat merugikan persiapan fisik serta mental para pemainnya.
Dalam konferensi pers pascapertandingan, Ghalenoei menegaskan bahwa tuan rumah telah memperlakukan timnya secara tidak adil. Ia berpendapat bahwa jika Iran diizinkan tiba dua minggu lebih awal untuk melakukan persiapan, kondisi fisik dan mental para pemain akan jauh lebih prima, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas permainan mereka di lapangan.
Ketegangan politik antara Washington dan Teheran menjadi latar belakang utama dari pembatasan ketat ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa meskipun Iran diizinkan berpartisipasi dalam turnamen tersebut, ia merasa tidak tepat jika tim Iran menetap di Amerika Serikat di antara jeda pertandingan dengan alasan keamanan.
Selain masalah logistik, Iran juga merasa dirugikan oleh keputusan wasit melalui VAR yang membatalkan gol Shoja Khalilzadeh di masa injury time akibat offside. Ghalenoei menyatakan bahwa timnya tidak hanya berjuang melawan tekanan eksternal dan pembatasan, tetapi juga harus menghadapi nasib buruk di lapangan, seraya mendesak FIFA untuk memastikan perlakuan setara bagi seluruh peserta di turnamen mendatang.