EAST RUTHERFORD, New Jersey — Pelatih tim nasional Panama, Thomas Christiansen, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap regulasi baru FIFA dalam ajang Piala Dunia. Aturan tiebreak yang diterapkan saat ini membuat timnya harus tersingkir secara matematis sebelum melakoni pertandingan terakhir di Grup L, sehingga laga melawan Inggris pada Sabtu mendatang hanya menjadi formalitas untuk menjaga harga diri tim.
Panama mengalami kekalahan tipis 0-1 dalam dua laga pembuka, masing-masing saat menghadapi Ghana dan Kroasia. Hasil tersebut menempatkan mereka di posisi sulit. Namun, yang lebih mengecewakan bagi Christiansen adalah penerapan aturan baru FIFA yang memprioritaskan hasil head-to-head dalam penentuan posisi grup, yang secara langsung menutup peluang Panama untuk melaju ke babak gugur meskipun mereka mampu mengalahkan Inggris nantinya.
Dalam sesi konferensi pers yang berlangsung pada Jumat, Christiansen mengungkapkan bahwa aturan ini telah menghilangkan esensi kompetisi bagi tim yang sudah dipastikan gugur. Menurutnya, regulasi tersebut membuat sisa pertandingan menjadi kurang bergairah, baik bagi tim yang sudah tersingkir maupun bagi penonton yang mengharapkan persaingan hingga detik terakhir.
Christiansen menekankan bahwa meskipun pertandingan melawan Inggris mungkin masih krusial bagi lawan untuk menentukan posisi puncak atau runner-up grup, namun bagi Panama, situasi ini sangat merugikan. Ia menilai bahwa kondisi di mana sebuah tim sudah tereliminasi lebih awal karena aturan teknis justru mencederai integritas dan daya tarik dari turnamen itu sendiri.
Di sisi lain, timnas Inggris sedang berusaha keras untuk bangkit setelah ditahan imbang 0-0 oleh Ghana pada laga sebelumnya. Hasil tersebut memicu kritik dari penggemar mereka, sehingga laga melawan Panama di New York New Jersey Stadium diprediksi akan menjadi ajang pembuktian kekuatan penuh skuad asuhan Gareth Southgate demi mengamankan posisi teratas di klasemen grup.
Menutup pernyataannya, Christiansen menyatakan tekadnya untuk memberikan perlawanan maksimal di laga terakhir. Ia ingin timnya meninggalkan turnamen dengan catatan positif dan menorehkan sejarah baru bagi Panama. Meski merasa bangga bisa membawa Panama lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, ia mengakui bahwa pengalaman kali ini menyisakan rasa getir akibat regulasi yang ia anggap tidak adil.