Otoritas penerbangan China secara resmi memberlakukan pembatasan ketat terhadap seluruh operator penerbangan swasta yang mengoperasikan pesawat sayap ringan. Keputusan ini diambil sebagai respons cepat atas insiden kecelakaan tragis yang melibatkan sebuah pesawat kecil yang menghantam CITIC Tower, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, pada Jumat (26/6) lalu.
Laporan dari Financial Times mengonfirmasi bahwa insiden tersebut menelan korban jiwa seorang pilot, sementara 13 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini diidentifikasi sebagai Sunward SA60L Aurora, sebuah pesawat olahraga ringan dua kursi produksi dalam negeri China. Hingga saat ini, puing-puing pesawat masih dalam proses investigasi mendalam oleh pihak berwenang di distrik setempat.
Sebagai langkah mitigasi risiko, pemerintah China telah mengeluarkan perintah pengendalian wilayah udara secara nasional. Kebijakan ini tidak hanya menyasar operator pesawat bermesin baling-baling, tetapi juga mencakup penangguhan total terhadap layanan terjun payung, paralayang, serta berbagai aktivitas penerbangan rekreasi lainnya di seluruh penjuru negeri. Pengetatan ini dilakukan tanpa batas waktu yang ditentukan hingga evaluasi keamanan menyeluruh selesai dilakukan.
Dampak dari kebijakan ini terlihat sangat signifikan terhadap mobilitas udara non-komersial. Berdasarkan data dari platform pelacak penerbangan Flightradar24, aktivitas penerbangan di China yang berada di luar kategori layanan kargo dan komersial mengalami penurunan tajam sejak Sabtu (27/6). Hal ini menunjukkan betapa seriusnya otoritas China dalam merespons ancaman keselamatan udara di wilayah padat penduduk seperti Beijing.
Selain insiden ini, pemerintah Beijing sebenarnya telah meningkatkan pengawasan wilayah udara sejak awal tahun. Sebelumnya, otoritas setempat telah menerapkan aturan ketat yang melarang penggunaan pesawat nirawak atau drone di sebagian besar wilayah ibu kota. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan keamanan ruang udara di pusat pemerintahan dan kawasan bisnis strategis.
Saat ini, tim penyelidik masih bekerja di lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti dari lokasi kejadian di CITIC Tower, yang juga dikenal sebagai China Zun. Publik menantikan hasil investigasi resmi untuk menentukan apakah insiden ini disebabkan oleh kegagalan teknis, faktor manusia, atau kondisi lingkungan di sekitar gedung pencakar langit tersebut. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kapan operasional penerbangan swasta akan kembali dibuka.