Istana Lusail di Qatar menjadi pusat perhatian diplomasi global dalam beberapa hari terakhir. Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menerima rangkaian delegasi tingkat tinggi, duta besar, dan masyarakat yang berduka sejak hari Senin.
Kedatangan para pemimpin dunia ini merupakan respons atas meninggalnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Pria yang memerintah Qatar pada periode 1995 hingga 2013 itu tutup usia pada Kamis pekan lalu di umur 74 tahun.
Sheikh Hamad dikenang sebagai arsitek di balik transformasi Qatar menjadi negara berpengaruh di tingkat regional maupun internasional. Selama hampir dua dekade memimpin, ia melakukan reformasi besar-besaran yang mengubah wajah negara Teluk tersebut, termasuk pembentukan jaringan media global Al Jazeera dan investasi masif di sektor energi serta olahraga.
Kiprahnya tidak hanya terbatas pada infrastruktur fisik. Ia meletakkan fondasi kebijakan luar negeri Qatar yang independen dan proaktif, yang hingga kini masih dijalankan oleh putranya, Sheikh Tamim. Masa kekuasaannya menandai babak baru ketika Qatar mulai menempatkan diri sebagai penengah konflik dan pemain penting dalam diplomasi Timur Tengah.
Upacara penghormatan terakhir bagi mantan penguasa itu menarik perhatian luas karena menunjukkan betapa besarnya pengaruh simbolis Qatar di mata dunia. Ribuan pelayat memadati area istana, sementara kepala negara sahabat berlomba-lomba menyatakan kehadiran mereka, baik secara fisik maupun melalui sambungan telepon.
Gelombang belasungkawa ini mencerminkan jaringan geopolitik yang dibangun Sheikh Hamad selama menjabat. Dari kawasan MENA, sejumlah tokoh hadir langsung. Putra Mahkota Bahrain Salman bin Hamad Al Khalifa menyambangi Istana Lusail pada Senin. Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi melayat pada Selasa pagi, disusul Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam dan Presiden Joseph Aoun.
Negara-negara Teluk lainnya juga menunjukkan solidaritas. Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, hingga Arab Saudi mengirimkan perwakilan tingkat tinggi. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman bahkan menghubungi Sheikh Tamim via telepon untuk mendoakan almarhum. Sementara itu, dari Afrika hingga Asia Pasifik, nama-nama seperti Paul Kagame (Rwanda), Shehbaz Sharif (Pakistan), hingga Kassym-Jomart Tokayev (Kazakhstan) tercatat hadir memberi penghormatan.
Bagi Indonesia, momentum ini relevan mengingat hubungan strategis Jakarta-Doha yang terus menguat. Meski tidak ada presiden yang disebut hadir secara fisik dalam daftar awal, Kementerian Luar Negeri India misalnya mengirim menteri untuk mewakili negaranya. Indonesia sendiri memiliki kepentingan besar di Qatar, mulai dari investasi sovereign wealth fund yang menopang infrastruktur dalam negeri hingga perlindungan bagi ratusan ribu pekerja migran. Keharmonisan diplomasi dengan keluarga kerajaan Qatar, yang masih memiliki garis keturunan dengan Sheikh Hamad, menjadi aset krusial bagi stabilitas kepentingan nasional.
Dalam catatan Diwan Amiri (badan pemerintah tertinggi Qatar), Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menyampaikan belasungkawa atas "kepergian ayah emir yang diampuni oleh kehendak Allah". Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh pemimpin Libya dan Komoro yang datang membawa delegasi khusus.
Sheikh Tamim juga menerima panggilan dari Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dalam pesan tertulisnya, Mohammed bin Salman dari Saudi menuturkan doa agar "Allah Yang Maha Kuasa menyelimuti almarhum Ayah Emir dengan rahmat tak terbatas dan menempatkannya di Surga yang luas". Ungkapan tersebut mencerminkan kedekatan personal maupun institusional di antara negara-negara Teluk.
Sorotan dunia kini tertuju pada bagaimana Sheikh Tamim akan melanjutkan visi besar sang ayah di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Transisi kepemimpinan generasi pertama ke generasi kedua di Qatar telah selesai sejak 2013, namun warisan Sheikh Hamad tetap menjadi kompas arah bagi kebijakan luar negeri Doha.
Ke depannya, kunjungan belasungkawa ini diproyeksikan akan mempererat ikatan diplomatik yang sudah terjalin. Bagi komunitas internasional, stabilitas Qatar di bawah kepemimpinan Sheikh Tamim sangat vital, terutama dalam menjaga pasokan energi global dan menjadi jembatan dialog di kawasan yang kerap bergejolak.