Teknologi

Pemuda Pondok Labu Ciptakan Sistem Peringatan Dini Banjir Mandiri

Ringkasan

  • Pemuda Pondok Labu ciptakan alat deteksi banjir otomatis di RW 10 akhir 2024 guna mitigasi luapan sungai.

Seorang pemuda berusia 23 tahun di Kelurahan Pondok Labu, Jakarta Selatan, memperkenalkan alat pendeteksi banjir otomatis bernama Smart Flood Warning System untuk memitigasi risiko luapan Kali Grogol dan Kali Krukut. Inovasi berbasis komunitas itu mulai dipasang di RW 10 pada akhir 2024 sebagai jawaban atas kerentanan wilayah tersebut terhadap banjir tahunan.

Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom, menyatakan bahwa gagasan alat ini berawal dari Muhammad Azzuhri Ramdhani, anggota Karang Taruna RT 02 RW 10, usai mengikuti pendidikan dan pelatihan kebencanaan dari BPBD. Pemasangan perdana dilakukan di dua titik, yakni RT 01 dan RT 02 RW 10, karena kedua lokasi tersebut paling sering terdampak luapan sungai saat curah hujan tinggi.

Pondok Labu memang berada dalam posisi geografis yang tidak mudah. Wilayah ini diapit oleh dua alur sungai utama, Kali Grogol dan Kali Krukut, sehingga setiap kenaikan debit air hampir pasti berdampak pada permukiman padat. Catatan kelurahan menyebutkan, banjir terparah terjadi pada 2020 dengan ketinggian nyaris dua meter.

Data warga terdampak cukup besar. Di RT 01 RW 10 tercatat 158 kepala keluarga atau 540 jiwa, sedangkan RT 02 RW 10 ada 120 KK dengan 386 warga. Angka tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi dini bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan urusan keselamatan ratusan keluarga.

Sebelum alat ini hadir, warga mengandalkan cara konvensional seperti kentongan, pengeras suara masjid, hingga memukul tiang listrik untuk memberi tahu tetangga soal banjir. Metode itu tidak efektif, terutama jika hujan deras turun tengah malam dan suara tidak terdengar hingga ke ujung gang.

Azzuhri merancang alat pendeteksi tersebut menggunakan komponen sisa milik warga sehingga biaya produksi tetap rendah. Ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Nasional yang melihat potensi rekan-rekan Karang Taruna di bidang teknologi. Menurut pengamatannya, hujan deras 30 menit sudah cukup membuat genangan 50 sentimeter di kawasan itu.

Kehadiran sistem peringatan dini buatan warga menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus bergantung pada perangkat mahal dari vendor besar. Di tengah ancaman perubahan iklim, solusi lokal yang digerakkan komunitas bisa menjadi pelapis pertahanan pertama sebelum bantuan pemerintah tiba.

Bagi pembaca di Indonesia, contoh ini relevan karena banyak permukiman di Jabodetabek, Bandung, hingga Kalimantan juga berada di lembah sungai. Teknologi deteksi banjir kerap dipandang sebagai urusan instansi, padahal partisipasi warga seperti di Pondok Labu membuktikan hal sebaliknya.

"Idenya itu memang kami berangkat dari teman-teman Karang Taruna yang memiliki berbagai macam potensi pengetahuan teknologi," kata Azzuhri. Ia menegaskan alat tersebut baru pertama kali diterapkan di Jakarta dan sengaja dipasang di RT 02 sebagai contoh utama di kelurahan.

Vernier menambahkan, instalasi di RT 02 dibangun secara swadaya melalui kas RT dan dukungan warga, sementara di RT 01 difasilitasi oleh CSR FIF Group. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di tingkat prototipe.

Ke depan, Kelurahan Pondok Labu berencana memperluas pemasangan alat serupa ke titik rawan lain dengan dukungan CSR dan kerja sama pemangku kepentingan. Jika tren ini berlanjut, sistem peringatan dini berbasis komunitas berpotensi menjadi standar baru penanggulangan banjir di level rukun warga.

Langkah perluasan itu penting mengingat intensitas hujan ekstrem diprediksi meningkat tiap tahun. Alat buatan warga yang sederhana namun fungsional dapat mengurangi korban dan kerugian material jauh sebelum air masuk ke dalam rumah.

Mengapa Ini Penting

Inovasi tingkat rukun warga ini menunjukkan bahwa ketahanan bencana dapat dibangun dari bawah tanpa menunggu anggaran besar pemerintah. Model serupa dapat direplikasi di ribuan permukiman rawan banjir di Indonesia yang tidak terjangkau sensor resmi. Partisipasi komunitas juga memperpendek rantai peringatan karena warga langsung menerima info dari tetangga mereka. Ke depan, pendekatan ini bisa melengkapi sistem early warning nasional yang kerap terkendala keterbatasan infrastruktur di tingkat mikro.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
18 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit