Peneliti dari China baru-baru ini berhasil mengidentifikasi fosil burung dari periode Jurassic yang mengubah pemahaman ilmuwan mengenai tahapan evolusi ekor burung. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana transisi morfologi dari dinosaurus menjadi burung modern terjadi.
Fosil yang diberi nama Zhengheornis buyu ini ditemukan oleh tim kolaborasi antara Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (IVPP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) bersama Institut Ilmu Geologi Provinsi Fujian. Penemuan ini dianggap sebagai salah satu temuan paleontologi paling signifikan dalam dekade terakhir.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa spesimen ini memiliki karakteristik unik, yakni hanya memiliki 15 ruas tulang belakang kaudal yang memendek. Berbeda dengan burung berekor panjang lainnya yang ditemukan pada era yang sama, Zhengheornis buyu tidak memiliki struktur pygostyle, yaitu tulang ekor yang menyatu di bagian ujungnya.
Pygostyle merupakan komponen krusial dalam anatomi burung modern yang berfungsi mendukung kemampuan terbang. Selama ini, para ahli paleontologi meyakini bahwa evolusi ekor burung selalu melibatkan pembentukan pygostyle secara bertahap. Namun, temuan ini membuktikan bahwa bentuk transisi dengan ekor pendek tanpa pygostyle ternyata pernah ada.
Dengan berat tubuh antara 74 hingga 163 gram serta panjang sekitar 20 sentimeter, Zhengheornis buyu tercatat sebagai burung berekor panjang terkecil yang pernah ditemukan. Ukuran tubuh yang kecil ini diyakini oleh para peneliti sebagai faktor pendorong utama dalam proses evolusi yang mempercepat transisi dari dinosaurus menjadi burung.
Penemuan ini secara langsung meruntuhkan asumsi lama yang menyatakan bahwa transisi bentuk ekor seperti ini tidak mungkin terjadi. Dengan adanya bukti fosil ini, ilmuwan kini memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fleksibilitas evolusioner yang dialami oleh nenek moyang burung saat mereka mulai mengembangkan kemampuan terbang.