Internasional

Pengemudi Serial di Singapura Didakwa Akibat Tabrakkan Beruntun di Bawah Pengaruh Obat

Ringkasan

  • Seorang pria 31 tahun di Singapura didakwa terlibat 7 kecelakaan lalu lintas antara Oktober 2024-Februari 2025 akibat mengemudi di bawah pengaruh etomidate dan berperilaku berbahaya.

Seorang pria berusia 31 tahun di Singapura menghadapi serangkaian dakwaan serius setelah diduga terlibat dalam tujuh kecelakaan lalu lintas dalam kurun waktu empat bulan, antara Oktober 2024 hingga Februari 2025. Pihak berwenang akan mendakwanya dengan mengemudi di bawah pengaruh obat etomidate, mengemudi secara berbahaya, dan berbagai pelanggaran lalu lintas lainnya. Penyelidikan mengungkapkan bahwa kecelakaan terakhirnya terjadi pada 6 Februari 2025, di mana ia mengemudi melawan arus lalu lintas dan bertabrakan dengan sebuah truk di Punggol North Avenue. Meskipun tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, polisi menemukan alat pengisap rokok elektrik (vaporiser) dan pod di mobilnya. Analisis sampel darahnya kemudian mendeteksi adanya etomidate, sebuah zat yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi.

Insiden paling awal yang tercatat terjadi pada 21 Oktober 2024 di Sengkang East Way. Dalam kejadian ini, pengemudi tersebut menabrak bagian belakang taksi yang sedang berhenti, menyebabkan pengemudi taksi wanita berusia 64 tahun mengalami cedera leher. Keesokan harinya, di Marina Coastal Expressway, ia kembali melakukan manuver berbahaya dengan berpindah jalur secara liar melintasi lima lajur sebelum menabrak dinding pembatas dan mobil lain. Pengemudi mobil yang ditabrak mengalami patah tulang pergelangan tangan kanan serta cedera leher dan punggung.

Rentetan kecelakaan terus berlanjut. Pada 1 Februari 2025, pria ini terlibat dalam dua tabrakan beruntun. Kecelakaan pertama terjadi di Punggol Way, dan yang kedua di Dunearn Road. Dalam insiden kedua, sebuah alat pengisap rokok elektrik kembali disita. Pengemudi tersebut sempat memberikan keterangan palsu, mengklaim belum menggunakan alat itu, namun penyelidikan kemudian membuktikan sebaliknya. Hari berikutnya, 2 Februari 2025, ia kehilangan kendali saat berbelok di persimpangan Yio Chu Kang Link dan Boundary Road, menabrak tiang lampu lalu lintas hingga roboh dan menyebabkan mobilnya terbalik.

Pada 4 Februari 2025, ia kembali menabrak bagian belakang sepeda motor di Simei Avenue, melukai pengendara berusia 27 tahun yang mengalami patah tulang pergelangan tangan dan cedera dada. Lagi-lagi, alat pengisap rokok elektrik disita dari tersangka. Juru bicara kepolisian menyatakan bahwa mengemudi di bawah pengaruh zat yang mengganggu kemampuan berkendara adalah tindakan yang sangat berbahaya dan tidak bertanggung jawab, serta membahayakan seluruh pengguna jalan. Pihak kepolisian menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap pelaku yang membahayakan keselamatan publik.

Dakwaan yang dihadapi mencakup mengemudi tanpa perhatian yang semestinya, mengemudi berbahaya yang menyebabkan luka berat, mengemudi di bawah pengaruh obat-obatan terlarang, dan memberikan keterangan palsu kepada petugas. Jika terbukti bersalah, pelaku dapat menghadapi denda besar, hukuman penjara, dan pencabutan hak mengemudi seumur hidup. Etomidate sendiri merupakan anestesi yang sering digunakan dalam prosedur medis, namun penggunaannya di luar konteks medis dan dikombinasikan dengan aktivitas mengemudi dapat menimbulkan efek samping yang serius, termasuk gangguan kognitif dan motorik.

Kasus ini menyoroti ancaman ganda dari penyalahgunaan zat psikoaktif dan perilaku mengemudi yang sembrono. Penggunaan zat seperti etomidate, meskipun mungkin tidak sepopuler narkoba jalanan, dapat memiliki dampak yang sama merusaknya pada kemampuan seseorang untuk beroperasi dengan aman, terutama di balik kemudi kendaraan bermotor. Tingginya frekuensi kecelakaan dalam waktu singkat menunjukkan pola perilaku berisiko tinggi yang tidak hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain di jalan.

Keterlibatan alat pengisap rokok elektrik dalam kasus ini juga menambah dimensi baru. Meskipun seringkali dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional, penyalahgunaan zat terlarang melalui alat ini dapat menjadi jalan masuk ke dalam penggunaan zat yang lebih berbahaya, seperti yang diduga terjadi dalam kasus ini. Penyelidikan lebih lanjut oleh Health Sciences Authority (HSA) Singapura akan menentukan kandungan pasti dari pod yang digunakan dan potensi dampaknya terhadap keselamatan mengemudi.

Perilaku mengemudi berbahaya yang berulang kali dilakukan oleh tersangka, mulai dari menabrak dari belakang hingga mengemudi melawan arus, mencerminkan kurangnya kesadaran akan keselamatan dan pengabaian terhadap peraturan lalu lintas. Keputusan polisi untuk menangguhkan Surat Izin Mengemudi (SIM) tersangka segera setelah penangkapannya merupakan langkah preventif yang krusial untuk mencegah insiden lebih lanjut.

Sanksi yang menanti pelaku cukup berat. Mengemudi di bawah pengaruh obat dapat diancam denda hingga S$10.000 atau penjara 12 bulan. Mengemudi berbahaya yang menyebabkan luka berat bisa berujung pada hukuman penjara hingga lima tahun. Memberikan keterangan palsu kepada petugas publik juga merupakan pelanggaran serius yang dapat dikenai sanksi pidana. Kombinasi dakwaan ini menunjukkan keseriusan otoritas Singapura dalam menangani kasus yang membahayakan keselamatan publik.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat global, termasuk di Indonesia, mengenai bahaya mengemudi di bawah pengaruh zat apa pun. Meskipun etomidate mungkin belum umum disalahgunakan di Indonesia untuk tujuan mengemudi, tren penyalahgunaan zat melalui berbagai metode terus berkembang. Kesadaran publik dan penegakan hukum yang tegas sangat diperlukan untuk mencegah tragedi serupa terjadi.

Di Indonesia, isu mengemudi di bawah pengaruh alkohol telah lama menjadi perhatian. Namun, penyalahgunaan obat-obatan resep atau zat psikoaktif lainnya oleh pengemudi juga merupakan ancaman yang perlu diwaspadai. Kurangnya alat tes yang spesifik untuk berbagai jenis obat di lapangan bisa menjadi tantangan dalam penegakan hukum. Diperlukan edukasi yang lebih luas mengenai risiko mengemudi setelah mengonsumsi obat apa pun yang dapat memengaruhi kesadaran dan reaksi.

Ke depannya, kasus ini diharapkan mendorong peningkatan pengawasan terhadap peredaran dan penyalahgunaan zat-zat psikoaktif, termasuk yang disalurkan melalui perangkat elektronik seperti vaporiser. Kolaborasi antara lembaga penegak hukum, otoritas kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih aman bagi semua.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti bahaya tersembunyi dari penyalahgunaan obat resep seperti etomidate yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi, sebuah risiko yang mungkin belum sepenuhnya disadari di Indonesia. Fenomena ini juga menggarisbawahi tren penyalahgunaan zat melalui perangkat modern seperti vaporiser, yang memerlukan perhatian lebih dari regulator dan masyarakat. Penegakan hukum yang tegas di Singapura dapat menjadi contoh bagi Indonesia dalam menindak pengemudi berbahaya yang membahayakan keselamatan publik.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit