Perdana Menteri Andy Burnham mengizinkan Amerika Serikat menggunakan sejumlah pangkalan Inggris di Timur Tengah untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Keputusan diambil setelah pertemuan menteri senior dan pejabat keamanan menjelang pelantikannya Senin (20/7).
Keputusan ini mencakup pangkalan strategis Diego Garcia di Samudra Hindia dan Pangkalan Angkatan Udara Fairford di Inggris. Kedua lokasi tersebut sebelumnya sudah disetujui untuk operasi AS, namun izin eksplisit Burnham memperkuat dukungan logistik bagi serangan terbaru Washington terhadap Teheran.
Burnham, yang berasal dari Partai Buruh, menghadapi kritik keras dari pihak oposisi. Mereka memperingatkan bahwa persetujuan tersebut bisa melibatkan Inggris dalam konflik di Timur Tengah, meningkatkan risiko keamanan bagi warga dan ekonomi domestik. Di sisi lain, pemerintah Inggris sebelumnya sudah mengizinkan penggunaan pangkalan tersebut untuk operasi melawan Iran, sehingga keputusan Burnham dianggap sebagai kelanjutan kebijakan yang sudah berjalan.
Di tengah ketegangan regional, Burnham juga berdiskusi dengan Presiden Donald Trump melalui telepon. Keduanya membahas keamanan maritim di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak utama dunia, serta upaya pembersihan ranjau laut. Trump menggambarkan percakapan tersebut sebagai sangat positif dan produktif, serta menyinggung kerja sama di bidang minyak lepas pantai, perdagangan, dan aliansi militer.
Kutipan dari Trump di media sosialnya, Social Truth, menyatakan, “Kami membahas banyak hal termasuk hubungan luar biasa yang sudah kami punya dengan Inggris.” Ia menambahkan, “Kami akan bertemu dalam waktu dekat untuk membahas topik yang saling menguntungkan.” Burnham menegaskan komitmen Inggris untuk melindungi keamanan maritim di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi teknologi pertahanan yang menarik. Jakarta sedang mempercepat modernisasi alutsista dan bergantung pada kerja sama teknologi dengan berbagai negara. Kemampuan pangkalan seperti Diego Garcia dalam menjadi hub untuk drone canggih, pesawat pengintai, dan sistem senjata presisi dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam merancang jaringan logistik pertahanan regional yang lebih terintegrasi.
Teknologi militer berbasis pangkalan tetap menjadi tulang punggung proyeksi kekuatan AS, meskipun tren terkini mengarah pada kapal induk yang lebih fleksibel dan penggunaan pangkalan bersama. Indonesia telah mulai mengembangkan fasilitas serupa di Batam dan pulau-pulau lain untuk mendukung operasi pengawasan maritim. Pengalaman Inggris dalam berbagi akses pangkalan dapat menjadi pelajaran bagi Jakarta tentang diplomasi keamanan yang seimbang antara kedaulatan dan interoperabilitas.
Dampak politik dalam negeri di Inggris juga menarik perhatian pengamat di Asia Tenggara. Oposisi Inggris memperingatkan risiko keterlibatan dalam perang yang dapat memicu reaksi berantai di Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran yang melintasi Laut Arab, rute penting bagi ekspor minyak Indonesia. Ketegangan di Selat Hormuz dapat mempengaruhi premi risiko asuransi bagi kapal tanker Indonesia, sehingga pemerintah Jakarta perlu memantau perkembangan diplomasi keamanan di Eropa.
Di dalam negeri, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto telah menyerukan peningkatan industri pertahanan dalam negeri. Meskipun Indonesia belum memiliki pangkalan sekelas Diego Garcia, negara ini berinvestasi pada drone lokal seperti Elang Hitam dan sistem senjata jarak jauh. Kerjasama teknologi dengan Inggris dapat menjadi peluang bagi industri pertahanan Indonesia untuk mengakses teknologi sensor dan komunikasi mutakhir.
Ke depan, keputusan Burnham kemungkinan besar akan memicu perdebatan parlemen tentang transparansi penggunaan pangkalan Inggris dalam operasi ofensif. Di Asia, negara-negara seperti India dan Jepang juga memantau dinamika aliansi ini karena berdampak pada keseimbangan kekuatan di Samudra Hindia. Indonesia mungkin akan mengevaluasi kembali kebutuhan akan pangkalan bersama dengan mitra strategis untuk memastikan kedaulatan sambil memanfaatkan keunggulan logistik yang sama.