Komentator konservatif ternama Amerika Serikat, Tucker Carlson, dikabarkan telah memutus hubungan politiknya dengan Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Langkah drastis mantan pembawa acara Fox News ini diprediksi oleh lembaga think tank resmi asal Tiongkok, CICIR, akan memperdalam perpecahan di internal sayap kanan Amerika serta mengancam prospek partai tersebut dalam pemilihan paruh waktu mendatang.
Dalam wawancara eksklusif dengan Columbia Journalism Review, Carlson secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap pemerintahan saat ini, terutama terkait keputusan keterlibatan dalam konflik perang dengan Iran. Ia menegaskan rencananya untuk turut serta dalam pembentukan partai politik baru, meskipun ia menekankan bahwa dirinya tidak memiliki ambisi untuk mencalonkan diri sebagai kandidat dalam posisi politik apa pun.
Para analis dari Institute of American Studies di CICIR, Qu Shuiqing dan Li Chupei, menilai fenomena ini sebagai konsekuensi yang tak terelakkan dari meningkatnya ketegangan di dalam gerakan konservatif selama masa jabatan kedua Trump. Mereka menyebut perpisahan ini sebagai mikrokosmos dari jurang pemisah yang semakin lebar di tubuh Partai Republik, yang kini sedang berjuang mendefinisikan kembali identitas dan arah koalisinya.
Laporan tersebut menyoroti bahwa ketika sosok media yang dulunya menjadi pendukung paling setia kini berbalik arah, Partai Republik tidak hanya menghadapi tantangan elektoral jangka pendek. Lebih dari itu, partai tersebut kini dipaksa untuk melakukan refleksi mendalam terhadap nilai-nilai fundamental dan arah kebijakan yang selama ini diusung oleh koalisi mereka di tengah dinamika politik yang semakin volatil.
Ketidakpuasan terhadap penanganan perang Iran dan kebijakan ekonomi di bawah kepemimpinan Trump terus menjadi pemicu utama perpecahan di kalangan konservatif. Konflik ini tidak hanya terjadi di level elit, tetapi mulai menjalar ke akar rumput, menciptakan ketidakpastian mengenai masa depan dukungan pemilih tradisional yang merasa kecewa dengan arah partai saat ini.
Sentimen ini diperkuat oleh pernyataan Marjorie Taylor Greene, yang baru saja mengundurkan diri dari kursi kongresnya di Georgia. Ia menyatakan dukungan terhadap langkah Carlson dan menegaskan bahwa banyak pihak di dalam partai yang merasa dikhianati oleh kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan pemilih serta negara, menandakan potensi perpecahan yang lebih luas dalam waktu dekat.