Internasional

Perubahan Iklim Jadi Pemicu Gelombang Panas Paling Ekstrem di Eropa

Perubahan Iklim Jadi Pemicu Gelombang Panas Paling Ekstrem di Eropa

Ringkasan

  • Gelombang panas ekstrem di Eropa disebut sebagai dampak langsung perubahan iklim yang nyaris mustahil terjadi 50 tahun lalu.

Gelombang panas bersejarah yang saat ini melanda sebagian besar wilayah Eropa merupakan bagian dari tren cuaca berbahaya yang hanya dapat dijelaskan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Laporan terbaru dari kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) mengungkapkan bahwa suhu ekstrem yang terjadi di bulan Juni ini merupakan gelombang panas paling parah yang pernah tercatat di kawasan tersebut.

Menurut para ahli, fenomena suhu ekstrem ini nyaris mustahil terjadi 50 tahun yang lalu. Jutaan penduduk di Prancis, Italia, Spanyol, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya telah mengalami cuaca terik sepanjang minggu ini, dengan suhu siang hari yang menembus angka 40 derajat Celsius di banyak titik. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga memberikan beban berat pada layanan medis dan sektor ekonomi di wilayah terdampak.

Laporan tersebut juga menyoroti pergeseran pola cuaca yang bergerak ke arah timur, mengancam wilayah Jerman dan Eropa Tengah dengan kondisi yang serupa. Sebelumnya, gelombang panas ini telah menyebabkan puluhan korban jiwa di bagian barat benua tersebut. Data menunjukkan bahwa jika cuaca serupa terjadi pada Juni 1976, suhunya diprediksi akan 3,5 derajat Celsius lebih dingin, yang menegaskan betapa cepatnya peningkatan intensitas panas dalam dekade terakhir.

Peneliti utama dari Imperial College London, Theodore Keeping, menegaskan bahwa peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya perubahan iklim yang dipicu oleh manusia. Analisis WWA terhadap 850 kota di Eropa menunjukkan bahwa sekitar 45 persen dari kota-kota tersebut telah memecahkan atau diperkirakan akan memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa mereka pada bulan Juni ini.

Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution, menjelaskan bahwa pola cuaca itu sendiri sebenarnya tidak terlalu tidak biasa, namun suhu yang dihasilkan kini mencapai rekor yang tidak terpikirkan sebelumnya tanpa campur tangan manusia. Bumi saat ini telah menghangat sekitar 1,4 derajat Celsius di atas level pra-industri, yang didorong oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas secara masif.

Menghadapi tantangan ini, para ilmuwan menekankan bahwa transisi energi dengan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara cepat adalah langkah yang sangat krusial. Tanpa upaya global untuk membatasi kenaikan suhu bumi, dunia diperkirakan akan terus menghadapi rangkaian cuaca ekstrem yang lebih sering dan lebih intens, yang akan berdampak buruk pada ketahanan pangan, kesehatan publik, dan stabilitas infrastruktur global di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa perubahan iklim bersifat global dan dapat memicu anomali cuaca ekstrem yang mengancam sektor pertanian serta ketahanan energi nasional. Pemahaman mengenai urgensi transisi energi hijau semakin relevan bagi pemerintah dan industri di Indonesia untuk memitigasi risiko bencana serupa di masa depan.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit