Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Arida Susilowati, menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan multidimensi yang mengancam ketahanan pangan, keberlanjutan ekosistem, serta penyediaan jasa lingkungan di Indonesia. Fenomena global seperti kenaikan suhu, pergeseran pola curah hujan, hingga cuaca ekstrem kini berdampak langsung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan nasional.
Menurut Arida, perubahan iklim tidak sekadar mengganggu produktivitas komoditas akibat siklus tanam yang tidak menentu, tetapi juga memicu serangan hama dan penyakit yang lebih masif. Hal ini menciptakan risiko nyata terhadap stabilitas rantai pasok pangan, sistem distribusi, hingga akses masyarakat luas dalam memperoleh pangan yang aman dan bergizi.
Dalam perspektif akademis, ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari ketahanan ekosistem. Sumber daya alam yang terjaga dengan baik adalah fondasi utama sistem produksi pangan nasional. Ketergantungan pada ekosistem yang sehat menjadi krusial agar kapasitas produksi pangan tetap terjaga di tengah tekanan iklim yang semakin meningkat.
Hasil dari Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 menyoroti peran sentral hutan sebagai penyangga iklim. Hutan berfungsi vital dalam mengatur siklus hidrologi, menjaga kesuburan tanah, serta menjadi habitat keanekaragaman hayati yang mendukung kebutuhan pangan dan obat-obatan masyarakat. Sebaliknya, degradasi hutan dan alih fungsi lahan hanya akan memperburuk emisi gas rumah kaca.
Sebagai solusi, pendekatan berbasis alam atau Nature-based Solutions menjadi kunci krusial dalam menghadapi krisis ini. Langkah seperti pengelolaan hutan lestari, restorasi lahan gambut dan mangrove, serta penerapan sistem agroforestri diyakini mampu meningkatkan penyerapan karbon sekaligus memperbaiki produktivitas lahan secara signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.
Arida menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut untuk mentransformasi arah riset dan pengabdian masyarakat guna menjawab tantangan iklim. Sinergi antara kebijakan pemerintah, riset akademis, dan implementasi teknologi tepat guna diperlukan untuk memperkuat ketahanan sosial-ekologis, baik di tingkat lokal maupun nasional, demi menjamin masa depan pangan Indonesia yang lebih tangguh.